Ilustrasi Swiss Cheese Model: lapisan pertahanan dengan celah (latent conditions)-akualita

EDUKASI AKUALITA

Human Error Theory: Swiss Cheese Model dan HFACS dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Banyak organisasi telah menginvestasikan sumber daya besar untuk sistem keselamatan kerja, mulai dari teknologi canggih, prosedur lengkap, hingga pelatihan rutin. Namun, kecelakaan kerja tetap terjadi. Kasus tragis seperti kecelakaan Adam Air DHI 574 (2007) menewaskan 102 orang dan menunjukkan bahwa kecelakaan bukan hanya akibat satu individu, tetapi kegagalan berlapis dalam sistem.

Pertanyaannya jika sudah ada prosedur keselamatan, mengapa kecelakaan masih bisa terjadi? Apakah cukup menyalahkan pekerja? Atau ada faktor sistemik yang lebih dalam? James Reason, psikolog kognitif, menjawab lewat Human Error Theory dan Swiss Cheese Model, mengubah fokus dari “siapa yang salah” menjadi “mengapa sistem gagal melindungi.

Apa Itu Human Error Theory?

Human error adalah kegagalan manusia dalam merencanakan atau mengeksekusi tindakan yang menghasilkan hasil tidak diinginkan. Menurut Reason (1990), ada dua kelompok besar:

1. Active Failures (Kegagalan Aktif)

Kesalahan yang dampaknya langsung terlihat dan terjadi pada tingkat operator atau pekerja lapangan. Contoh: operator salah menekan tombol, pilot gagal membaca instrumen dengan benar, atau pekerja lupa menutup katup.

2. Latent Conditions (Kondisi Laten)

Kelemahan sistem atau organisasi yang tersembunyi dan baru terlihat dampaknya saat berinteraksi dengan kegagalan aktif. Contoh: prosedur yang tidak jelas, desain alat yang membingungkan, kurangnya pelatihan, atau budaya keselamatan yang lemah. Kedua faktor ini sering kali berinteraksi dalam rantai kejadian yang kompleks, dan inilah yang menjadi penyebab utama kecelakaan.

Swiss Cheese Model: Memahami Bagaimana Kecelakaan Terjadi

Ilustrasi Swiss Cheese Model: lapisan pertahanan dengan celah (latent conditions)-akualita

Swiss Cheese Model adalah model analisis risiko yang dikemukakan James Reason pada tahun 1990. Model ini menggambarkan sistem keselamatan sebagai serangkaian irisan keju Swiss yang disusun berlapis. Setiap irisan keju merepresentasikan lapisan pertahanan atau penghalang keselamatan, seperti:

  • Desain sistem yang aman
  • Prosedur operasi standar
  • Pelatihan dan kompetensi pekerja
  • Sistem pengawasan
  • Teknologi keselamatan
  • Budaya organisasi

Namun, setiap lapisan memiliki “lubang” yang merepresentasikan kelemahan atau celah keamanan. Dalam kondisi normal, lubang-lubang ini tidak sejajar sehingga bahaya dapat tertahan di salah satu lapisan. Kecelakaan terjadi ketika lubang-lubang pada semua lapisan sejajar, sehingga bahaya dapat menembus seluruh pertahanan dan menghasilkan insiden.

Prinsip Utama Swiss Cheese Model:

  1. Kecelakaan bukan hanya akibat kesalahan individu, tetapi hasil interaksi kompleks antara manusia, teknologi, dan organisasi.
  2. Sistem keselamatan harus memiliki multiple layers of defense.
  3. Organisasi harus fokus pada memperkuat setiap lapisan dan mengurangi “lubang” dalam sistem.

Jenis-Jenis Human Error: Slips, Lapses, dan Violations

James Reason mengklasifikasikan kesalahan manusia menjadi tiga bentuk utama berdasarkan karakteristik dan penyebabnya:

Jenis Definisi Karakteristik Contoh
Slips (Kesalahan Pelaksanaan) Terjadi ketika tindakan tidak sesuai dengan niat, meski niat awalnya benar. Terkait dengan faktor atensi dan persepsi Terjadi pada skill-based level (pekerjaan rutin) Sering terjadi saat multitasking atau distraksi Operator bermaksud menekan tombol "ON" tetapi salah menekan "OFF" Pekerja mengambil alat yang salah karena mirip Mengetik angka yang keliru saat memasukkan data
Lapses (Kesalahan Memori) Kegagalan dalam mengingat atau kehilangan ingatan jangka pendek. Berkaitan dengan memory failure Terjadi karena lupa langkah dalam prosedur Sering terjadi saat gangguan atau interupsi Pekerja lupa menutup katup sebelum menyalakan pompa Pilot lupa melakukan checklist sebelum take-off Teknisi lupa memasang kembali komponen setelah maintenance
Violations (Pelanggaran) Penyimpangan sengaja dari aturan atau prosedur yang berlaku. Dilakukan dengan kesadaran penuh Dapat didorong oleh berbagai faktor (tekanan waktu, norma kelompok, kurangnya konsekuensi) Tidak selalu bermotif jahat Routine Violations (Pelanggaran Rutin) Pelanggaran yang menjadi kebiasaan sehari-hari Contoh: tidak memakai APD karena sudah terbiasa, melewati prosedur lock-out tag-out Situational Violations (Pelanggaran Situasional) Pelanggaran karena tekanan situasi tertentu Contoh: melewati prosedur karena deadline ketat, mengambil jalan pintas karena kekurangan alat Exceptional Violations (Pelanggaran Luar Biasa) Pelanggaran yang jarang terjadi dan bersifat ekstrem Contoh: mengabaikan prosedur keselamatan dalam kondisi darurat yang tidak biasa

Implikasi untuk Pencegahan:

  • Slips dan Lapses: Dicegah melalui desain sistem yang lebih baik (error-proofing), checklist, pelatihan, dan pengurangan distraksi.
  • Violations: Dicegah melalui budaya keselamatan yang kuat, kepemimpinan yang baik, enforcement yang konsisten, dan pemahaman mengapa aturan dibuat

HFACS: Kerangka Analisis Komprehensif untuk Investigasi Kecelakaan

HFACS akualita Unsafe Acts, Preconditions, Unsafe Supervision, Organizational Influences

Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) dikembangkan oleh Shappell dan Wiegmann (2000) berdasarkan Swiss Cheese Model James Reason. HFACS menyediakan kerangka klasifikasi sistematis empat tingkat untuk menganalisis penyebab kecelakaan dari level operator hingga organisasi.

Level 1: Unsafe Acts (Tindakan Tidak Aman)

Tindakan berbahaya yang dilakukan langsung oleh pekerja dan paling dekat dengan kejadian kecelakaan.

Kategori:

A. Errors (Kesalahan Tidak Disengaja) 

  • Decision Errors (Kesalahan Keputusan) 

Kesalahan dalam pengambilan keputusan 

Contoh: meremehkan risiko, memilih prosedur yang salah, mengabaikan peringatan 

  • Skill-Based Errors 

Kesalahan dalam pelaksanaan keterampilan 

Contoh: operasi yang tidak disengaja, kesalahan dalam mengikuti checklist, kesalahan pemindaian visual 

  • Perceptual Errors (Kesalahan Persepsi) 

Kesalahan dalam memahami situasi 

Contoh: salah menilai jarak, disorientasi spasial, ilusi visual 

B. Violations (Pelanggaran) 

  • Routine Violations: Pelanggaran yang menjadi kebiasaan 
  • Situational Violations: Pelanggaran karena situasi tertentu 
  • Exceptional Violations: Pelanggaran ekstrem yang jarang terjadi

Level 2: Preconditions for Unsafe Acts (Kondisi Pemicu Tindakan Tidak Aman)

Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja pekerja dan menciptakan kondisi untuk terjadinya unsafe acts.

A. Substandard Conditions of Operators

  • Adverse Mental States (Kondisi Mental Negatif)
    • Stres, kelelahan, tekanan psikologis
    • Kehilangan fokus atau situational awareness
    • Overconfidence atau complacency
  • Adverse Physiological States (Kondisi Fisiologis Negatif)
    • Kelelahan fisik, sakit, atau cedera
    • Gangguan penglihatan atau pendengaran
    • Efek obat-obatan atau alkohol
  • Physical/Mental Limitations
    • Keterbatasan kemampuan fisik
    • Kurangnya pengetahuan atau pengalaman
    • Inkompetensi atau kurangnya pelatihan

B. Substandard Practices

  • Poor Coordination
    • Komunikasi yang buruk antar tim Kurangnya koordinasi dalam pekerjaan kelompok
    • Perencanaan kerja yang tidak tepat
  • Self-Imposed Stress
    • Perilaku konsumsi alkohol Kurangnya waktu istirahat
    • Nutrisi yang buruk

C. Environmental Factors

  • Physical Environment
    • Kebisingan, debu, asap
    • Thermal stress (panas atau dingin ekstrem)
    • Pencahayaan yang tidak memadai
    • Vibrasi
  • Technological Environment
    • Desain peralatan yang buruk
    • Otomatisasi yang tidak tepat
    • Interface yang membingungkan
    • Peralatan komunikasi yang tidak memadai

Level 3: Unsafe Supervision (Pengawasan Tidak Aman)

Kelemahan pada tingkat supervisi yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan.

Kategori:

1. Inadequate Supervision (Pengawasan Tidak Memadai)

  • Kegagalan memberikan bimbingan
  • Kegagalan memberikan pelatihan yang cukup
  • Tidak ada monitoring terhadap kualifikasi pekerja
  • Kurangnya feedback terhadap performa

2. Planned Inappropriate Operations (Perencanaan Operasi Tidak Tepat)

  • Kegagalan menyediakan data atau informasi yang benar
  • Tidak memperhitungkan waktu istirahat pekerja
  • Penetapan target yang tidak realistis
  • Jadwal kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan

3. Failed to Correct Known Problem (Gagal Memperbaiki Masalah yang Diketahui)

  • Mengabaikan laporan near miss
  • Tidak menindaklanjuti temuan audit
  • Membiarkan kondisi berbahaya tetap ada
  • Tidak melakukan corrective action

4. Supervisory Violations (Pelanggaran Pengawasan)

  • Mengesahkan prosedur berbahaya
  • Mengizinkan pekerja tidak berkualifikasi
  • Gagal menjalankan peraturan dan regulasi
  • Membiarkan pelanggaran terjadi tanpa konsekuensi

Level 4: Organizational Influences (Pengaruh Organisasi)

Faktor sistemik di tingkat organisasi yang menjadi akar dari kegagalan di level-level bawahnya.

A. Resource Management (Manajemen Sumber Daya)

  • Human Resources
    • Proses seleksi yang tidak tepat
    • Penempatan pekerja tidak sesuai kompetensi
    • Program pelatihan yang tidak memadai
    • Kurangnya succession planning
  • Financial Resources
    • Budget keselamatan yang tidak cukup
    • Prioritas cost cutting di atas keselamatan
    • Kurangnya investasi pada peralatan keselamatan
  • Equipment/Facilities
    • Pembelian peralatan yang tidak sesuai standar
    • Desain fasilitas yang buruk
    • Pemeliharaan yang tidak memadai

B. Organizational Climate (Iklim Organisasi)

  • Structure
    • Chain of command yang tidak jelas
    • Komunikasi organisasi yang buruk
    • Sistem pelaporan yang tidak efektif
    • Akuntabilitas yang lemah
  • Policies
    • Kebijakan keselamatan yang tidak konsisten
    • Sistem reward dan punishment yang tidak adil
    • Kebijakan zero tolerance yang tidak realistis
    • Gap antara policy dan praktek
  • Culture
    • Budaya keselamatan yang lemah
    • Normalisasi deviasi (acceptance of risk)
    • Kurangnya komitmen manajemen terhadap K3
    • Budaya menyalahkan (blame culture)

C. Organizational Process (Proses Organisasi)

  • Operations
    • Tekanan produksi yang berlebihan
    • Bekerja di bawah deadline yang tidak realistis
    • Insentif yang mendorong risk-taking
    • Kurangnya perencanaan program
  • Procedures
    • Prosedur yang tidak jelas atau tidak ada
    • Dokumentasi yang tidak memadai
    • Standard Operating Procedure (SOP) yang tidak up-to-date
    • Kurangnya standardisasi
  • Oversight
    • Manajemen risiko yang lemah
    • Program keselamatan yang tidak efektif
    • Audit dan inspeksi yang tidak memadai
    • Kurangnya continuous improvement

Studi Kasus: Kecelakaan Adam Air DHI 574

Kecelakaan Adam Air DHI 574 pada 1 Januari 2007 merupakan contoh tragis bagaimana Swiss Cheese Model dan HFACS dapat menjelaskan kejadian kecelakaan. Pesawat Boeing 737-4Q8 hilang di Selat Makassar, menewaskan 102 orang setelah mengalami kemiringan ekstrem hingga 100 derajat.

Analisis Berdasarkan HFACS:

Level 4: Organizational Influences

  • Budaya keselamatan yang lemah dengan fokus pada penghematan biaya
  • Kurangnya investasi pada penggantian suku cadang
  • Manajemen risiko yang tidak efektif

Level 3: Unsafe Supervision

  • Pengawasan pada kondisi dan pemeliharaan pesawat yang tidak memadai
  • Gagal mengidentifikasi dan memperbaiki kerusakan IRS (Inertial Reference System)
  • Kurangnya monitoring terhadap kelayakan suku cadang
  • Pemeriksaan pre-flight yang tidak menyeluruh

Level 2: Preconditions for Unsafe Acts

  • Pilot dan co-pilot mengalami kepanikan (adverse mental state)
  • Kehilangan situational awareness di tengah cuaca buruk
  • Kerusakan IRS yang tidak terdeteksi menciptakan kondisi berbahaya
  • Kondisi lingkungan: cuaca buruk di rute penerbangan

Level 1: Unsafe Acts

  • Pilot mengabaikan peringatan dari Air Traffic Controller (ATC)
  • Terlalu fokus pada troubleshooting kerusakan IRS (fixation error)
  • Decision error terkait penanganan kemiringan pesawat
  • Gagal mempertahankan kontrol pesawat

Analisis Swiss Cheese Model:

Kecelakaan ini menunjukkan bagaimana “lubang” pada setiap lapisan pertahanan sejajar:

  1. Lapisan Organisasi: Lubang berupa budaya penghematan dan lemahnya perhatian pada keselamatan
  2. Lapisan Maintenance: Lubang berupa pemeliharaan yang buruk dan kerusakan yang tidak diperbaiki
  3. Lapisan Supervisi: Lubang berupa pengawasan yang lemah
  4. Lapisan Operator: Lubang berupa kesalahan keputusan pilot dalam kondisi stres

Ketika semua lubang ini sejajar, bahaya (kerusakan IRS + cuaca buruk + decision error) menembus semua pertahanan dan menghasilkan kecelakaan fatal.

Pelajaran Penting:

Kecelakaan ini bukan semata-mata kesalahan pilot, tetapi hasil dari kegagalan sistem berlapis mulai dari tingkat organisasi hingga operator. Investigasi yang hanya menyalahkan pilot gagal mengidentifikasi root causes dan tidak akan mencegah kecelakaan serupa di masa depan.

Kelebihan dan Keterbatasan Swiss Cheese Model

Kelebihan

  • Pendekatan Sistemik
    • Mengalihkan fokus dari “blaming individual” ke “fixing the system”
    • Membantu investigator melihat gambaran yang lebih luas
  • Mudah Dipahami
    • Visualisasi yang sederhana dan intuitif
    • Dapat dikomunikasikan ke berbagai level organisasi
  • Menekankan Defense in Depth
    • Mendorong organisasi membangun multiple layers of protection
    • Tidak bergantung pada satu penghalang saja

Keterbatasan

  • Kurangnya Detail Teknis
    • Tidak menjelaskan secara detail sifat dasar dari “lubang”
    • Tidak menggambarkan hubungan timbal balik antar faktor (Luxhoj & Kauffeld, 2003)
  • Terlalu Statis
    • Tidak menjelaskan mengapa “lubang” berpindah tempat dan berubah ukuran
    • Tidak menggambarkan dinamika sistem yang kompleks (Dekker, 2002)
  • Sulit Dioperasionalkan
    • Tidak mudah diterapkan sebagai tool investigasi tanpa kerangka tambahan
    • Membutuhkan framework seperti HFACS untuk aplikasi praktis

Karena keterbatasan ini, Swiss Cheese Model biasanya digunakan bersama dengan framework lain seperti HFACS untuk investigasi yang lebih komprehensif.

Implikasi Praktis dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

1. Perubahan Paradigma Investigasi Kecelakaan

Dari: “Siapa yang bersalah?” Ke: “Mengapa sistem gagal melindungi?”

Investigasi kecelakaan tidak boleh berhenti pada identifikasi kesalahan operator, tetapi harus menelusuri hingga ke root causes di tingkat organisasi.

2. Pencegahan Multilayer

Organisasi harus memperkuat setiap lapisan pertahanan:

  • Engineering controls: Desain peralatan yang fail-safe dan error-proof
  • Administrative controls: Prosedur yang jelas, pelatihan, dan sistem permit kerja
  • Personal Protective Equipment: APD sebagai last line of defense
  • Organizational controls: Budaya keselamatan dan komitmen manajemen

3. Pendekatan Just Culture

Just Culture adalah keseimbangan antara:

  • Pembelajaran dari kesalahan (learning culture)
  • Akuntabilitas terhadap pelanggaran (accountability)

Organisasi harus membedakan:

  • Human error: Fokus pada perbaikan sistem
  • At-risk behavior: Coaching dan menghilangkan hambatan untuk compliant behavior
  • Reckless behavior: Konsekuensi yang jelas

4. Pentingnya Near Miss Reporting

Near miss adalah “free lessons” yang menunjukkan di mana lubang dalam sistem berada.

Organisasi harus:

  • Mendorong pelaporan near miss tanpa takut hukuman
  • Menganalisis dan menindaklanjuti setiap laporan
  • Menggunakan data near miss untuk continuous improvement

5. Budaya Keselamatan sebagai Fondasi

Budaya keselamatan yang kuat ditandai dengan:

  • Komitmen manajemen yang nyata (visible felt leadership
  • Komunikasi terbuka tentang risiko dan keselamatan
  • Pembelajaran berkelanjutan dari insiden
  • Keterlibatan semua level dalam program K3
  • Sistem reward yang mendukung perilaku aman

6. Sistem Manajemen K3 yang Proaktif

Organisasi harus bergerak dari:

  • Reactive: Bertindak setelah kecelakaan terjadi
  • Proactive: Mengidentifikasi dan mengendalikan risiko sebelum menjadi

kecelakaan Ini dapat dicapai melalui:

  • Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) yang menyeluruh
  • Job Safety Analysis (JSA)
  • Behavioral-based safety observation
  • Safety audit dan inspeksi rutin
  • Management of Change (MOC) process

Kesimpulan 

Human Error Theory, Swiss Cheese Model, dan HFACS memberikan kerangka yang komprehensif untuk memahami bagaimana kecelakaan terjadi serta bagaimana mencegahnya secara sistematis. Ketiganya mengajarkan bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada individu, tetapi pada kekuatan dan ketahanan sistem secara keseluruhan.

Pembelajaran utama dari teori-teori ini antara lain:

1. Kecelakaan adalah kegagalan sistem, bukan kesalahan individu.

Fokus investigasi harus bergeser dari mencari siapa yang salah menjadi memperbaiki sistem yang gagal melindungi.

2. Pertahanan berlapis adalah kunci.

Organisasi tidak boleh mengandalkan satu lapisan pengendalian saja, tetapi perlu membangun multiple layers of protection yang saling melengkapi.

3. Kondisi laten sama berbahayanya dengan kesalahan aktif.

Kelemahan organisasi yang tersembunyi (seperti kebijakan, budaya, atau supervisi) harus diidentifikasi dan dikoreksi sebelum berinteraksi dengan kesalahan manusia di lapangan.

4. Klasifikasi error penting untuk pencegahan yang tepat.

Slips dan lapses menuntut desain sistem yang lebih baik, sementara violations memerlukan penguatan budaya keselamatan dan kepemimpinan yang tegas.

5. HFACS menyediakan framework analisis yang sistematis.

Setiap level—dari unsafe acts hingga organizational influences—harus dikaji agar investigasi menghasilkan tindakan korektif yang efektif. 

6. Budaya keselamatan dan Just Culture adalah fondasi utama. 

Organisasi perlu menumbuhkan Just Culture, yaitu budaya yang menyeimbangkan antara pembelajaran dari kesalahan (learning culture) dan akuntabilitas perilaku (accountability). Dalam Just Culture, kesalahan manusia (human error) dipandang sebagai peluang perbaikan sistem, perilaku berisiko ditangani dengan coaching dan dukungan, sedangkan tindakan sembrono tetap diberikan konsekuensi yang adil. 

7. Komitmen manajemen dan pembelajaran berkelanjutan menentukan efektivitas K3. 

Tanpa dukungan nyata dari pimpinan dan sistem yang mendukung pelaporan, audit, serta tindak lanjut, penerapan K3 tidak akan berkelanjutan.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, organisasi dapat membangun sistem K3 yang tangguh, berorientasi pada pencegahan, dan berkelanjutan. Keselamatan kerja bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen organisasi—dari manajemen puncak hingga pekerja di lapangan. 

Ingin memahami lebih dalam cara melakukan investigasi insiden berbasis sistemik dan Just Culture? Ikuti Pelatihan & Sertifikasi BNSP Investigasi Insiden bersama AKUALITA. 

Pelatihan ini membekali Anda dengan pendekatan modern berbasis Human Error Theory, Swiss Cheese Model, dan HFACS untuk menganalisis penyebab kecelakaan secara menyeluruh—mulai dari perilaku individu hingga faktor organisasi.

Daftar Pustaka

  1. Reason, J. (1990). Human Error. Cambridge: Cambridge University Press.
  2. Reason, J. (1997). Managing the Risks of Organizational Accidents. Aldershot: Ashgate Publishing.
  3. Shappell, S. A., & Wiegmann, D. A. (2000). The Human Factors Analysis and Classification System–HFACS. DOT/FAA/AM-00/7. Washington, DC: Federal Aviation Administration.
  4. Shappell, S., & Wiegmann, D. (2003). Reshaping the way we look at general aviation accidents using the Human Factors Analysis and Classification System. Proceedings of the 12th International Symposium on Aviation Psychology, 417-422.
  5. Wiegmann, D. A., & Shappell, S. A. (2003). A Human Error Approach to Aviation Accident Analysis: The Human Factors Analysis and Classification System. Burlington: Ashgate Publishing.
  6. Hollnagel, E. (1993). Human Reliability Analysis: Context and Control. London: Academic Press.
  7. Dekker, S. (2002). Reconstructing human contributions to accidents: the new view on error and performance. Journal of Safety Research, 33(3), 371-385.
  8. Dekker, S. (2014). The Field Guide to Understanding ‘Human Error’ (3rd ed.). Boca Raton: CRC Press.
  9. Luxhoj, J. T., & Kauffeld, K. (2003). Evaluating the effect of technology insertion into the National Airspace System. The Rutgers Scholar, 5, 1-8.
  10. International Civil Aviation Organization (ICAO). (2013). Human Factors Training Manual (Doc 9683) (3rd ed.). Montreal: ICAO.
  11. Health and Safety Executive (HSE). (2009). Reducing Error and Influencing Behaviour (HSG48) (2nd ed.). Norwich: HSE Books.
  12. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). (2008). Final Report: Aircraft Accident Investigation Adam Air Flight DHI 574 Boeing 737-4Q8. Jakarta: KNKT.
  13. Hudson, P. (2001). Safety culture: Theory and practice. In RTO HFM Workshop on The Human Factor in System Reliability – Is Human Performance Predictable? (pp. 1-11). Siena, Italy.
  14. Perrow, C. (1999). Normal Accidents: Living with High-Risk Technologies. Princeton: Princeton University Press.
  15. Woods, D. D., Dekker, S., Cook, R., Johannesen, L., & Sarter, N. (2010). Behind Human Error (2nd ed.). Burlington: Ashgate Publishing.
  16. International Labour Organization (ILO). (2019). Safety and Health at the Heart of the Future of Work: Building on 100 years of experience. Geneva: ILO.
  17. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.
  18. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
  19. Eurocontrol. (2006). Revisiting the Swiss Cheese Model of Accidents. Brussels: European Organisation for the Safety of Air Navigation.
  20. Marx, D. (2001). Patient Safety and the “Just Culture”: A Primer for Health Care Executives. New York: Columbia University.

FAQ

Active failures adalah kesalahan langsung yang dilakukan oleh operator dan dampaknya segera terlihat, seperti salah menekan tombol atau lupa menutup katup. Sementara latent conditions adalah kelemahan sistem yang tersembunyi — misalnya prosedur tidak jelas, pelatihan kurang, atau budaya keselamatan yang lemah — yang baru berdampak ketika berinteraksi dengan kesalahan manusia.

HFACS digunakan saat investigasi membutuhkan pendekatan yang sistematis untuk mengidentifikasi akar penyebab di berbagai level — mulai dari unsafe acts pekerja, kondisi pemicu, kelemahan supervisi, hingga pengaruh organisasi. Framework ini membantu investigator fokus memperbaiki sistem, bukan menyalahkan individu.

Just Culture adalah budaya yang menyeimbangkan antara pembelajaran dari kesalahan (learning culture) dan akuntabilitas (accountability).

Prinsip utamanya:

  • Kesalahan manusia (human error) ditangani dengan perbaikan sistem.
  • Perilaku berisiko (at-risk behavior) ditangani dengan coaching atau pelatihan.
  • Tindakan sembrono (reckless behavior) tetap diberi konsekuensi yang adil.

Dengan Just Culture, pekerja tidak takut melapor, dan organisasi dapat belajar dari kesalahan untuk memperkuat sistem K3.

Karena near miss adalah peringatan dini terhadap celah dalam sistem sebelum terjadi kecelakaan nyata. Melalui pelaporan near miss, perusahaan dapat:

  • Mengidentifikasi potensi bahaya lebih awal
  • Memperbaiki sistem dan prosedur kerja
  • Meningkatkan budaya pelaporan dan pembelajaran organisasi

HFACS berperan sebagai alat analisis untuk mengidentifikasi penyebab kecelakaan secara sistemik, sedangkan ISO 45001 dan SMK3 PP 50/2012 menjadi kerangka manajemen yang memastikan penerapan K3 berjalan efektif. Gabungan keduanya menghasilkan sistem yang berbasis risiko, berlapis, dan berkelanjutan.

Mulai dari komitmen manajemen puncak, komunikasi terbuka, pelaporan tanpa takut dihukum, pembelajaran dari setiap insiden, hingga penerapan Just Culture. Budaya keselamatan yang kuat muncul ketika seluruh level organisasi berperan aktif menjaga keselamatan — bukan karena aturan, tetapi karena kesadaran bersama.

Anda dapat mempelajarinya melalui Pelatihan & Sertifikasi BNSP Investigasi Insiden bersama AKUALITA ataupun mengikuti Pelatihan Investigasi Insiden non sertifikasi.

Program ini dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan:

  • Menganalisis penyebab kecelakaan menggunakan pendekatan Human Error Theory, Swiss Cheese Model, dan HFACS
  • Menerapkan prinsip Just Culture dalam investigasi dan pelaporan
  • Menyusun rekomendasi korektif yang efektif dan berorientasi sistem

Daftar sekarang untuk batch terdekat dan bangun kompetensi Anda sebagai profesional K3 yang mampu melakukan investigasi insiden secara menyeluruh dan berintegritas. Hubungi CS Akualita untuk jadwal pelatihan dan konsultasi.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Picture of Hana Nuriy, SKM, MOHSSc

Hana Nuriy, SKM, MOHSSc

Picture of Anisa Hapsari, SKM

Anisa Hapsari, SKM

PT Adhikriya Kualita Utama (AKUALITA) adalah Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) resmi yang menyelenggarakan pelatihan sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kemnaker (Kementerian Ketenagakerjaan) dan sertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). 

AKUALITA juga menyediakan layanan konsultasi K3 yang mencakup keselamatan kerja, kesehatan kerja, lingkungan kerja, serta peningkatan sistem manajemen mutu di berbagai sektor industri.

Live Chat
Hubungi Customer Support kami untuk pertanyaan lebih lanjut
(Customer Support)
(Customer Support)
(Kritik dan Saran)
BNSP, Migas, dan Non Sertifikasi
Pelatihan & Sertifikasi Kemnaker
Live Chat
Hubungi Customer Support kami untuk pertanyaan lebih lanjut
(Kritik dan Saran)
(Customer Support)
(Customer Support)
BNSP, Migas, dan Non Sertifikasi
Pelatihan & Sertifikasi Kemnaker