Suspension Trauma: Bahaya Menggantung pada Full Body Harness dan Pertolongan Pertama Menurut

EDUKASI AKUALITA

Suspension Trauma: Bahaya Menggantung Pada Full Body Harness Dan Pertolongan Pertama Menurut Kemnaker

Full Body Harness: Penyelamat yang Bisa Jadi Pembunuh 

Trauma suspensi pada full body harness merupakan risiko keselamatan kerja yang sering luput dari perhatian dalam pekerjaan di ketinggian. Meskipun full body harness dirancang sebagai alat pelindung diri (APD) untuk mencegah jatuh fatal, kondisi tergantung terlalu lama setelah terjatuh justru dapat memicu trauma suspensi, yaitu keadaan darurat medis yang berpotensi menyebabkan penurunan aliran darah, kehilangan kesadaran, hingga kematian dalam waktu singkat.

Full body harness merupakan alat pelindung diri (APD) utama bagi pekerja yang bekerja di ketinggian, seperti pekerja konstruksi, teknisi tower, dan pembersih gedung tinggi. Alat ini dirancang untuk mencegah cedera fatal akibat jatuh. Namun, masih banyak yang belum menyadari bahwa full body harness juga dapat menimbulkan ancaman serius apabila pekerja tergantung terlalu lama setelah terjatuh. Kondisi ini dikenal sebagai trauma suspensi, yaitu keadaan darurat medis yang dapat menyebabkan penurunan aliran darah, hilangnya kesadaran, bahkan kematian hanya dalam hitungan menit. Ironisnya, alat yang berfungsi menyelamatkan nyawa justru dapat berubah menjadi risiko mematikan jika tidak disertai pemahaman, prosedur penyelamatan, dan penanganan yang tepat. Trauma suspensi sendiri masih menjadi fenomena yang kurang dipahami, tidak hanya oleh pekerja lapangan, tetapi juga oleh sebagian praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia.

Menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) No. 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Pada Ketinggian, bekerja pada ketinggian didefinisikan sebagai : 

“Kegiatan atau aktifitas pekerjaan yang dilakukan oleh Tenaga Kerja pada Tempat Kerja di permukaan tanah atau perairan yang terdapat perbedaan ketinggian dan memiliki potensi jatuh yang menyebabkan Tenaga Kerja atau orang lain yang berada di Tempat Kerja cedera atau meninggal dunia atau menyebabkan kerusakan harta benda.”

Meskipun full body harness wajib digunakan, Permenaker No. 9/2016 tidak hanya menekankan penggunaan APD, tetapi juga prosedur penyelamatan korban yang terjatuh untuk mencegah komplikasi medis seperti trauma suspensi.

Mekanisme Terjadinya Trauma Suspensi pada Pekerja Ketinggian

Menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian, bekerja pada ketinggian didefinisikan sebagai:

“Kegiatan atau aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja pada tempat kerja di permukaan tanah atau perairan yang terdapat perbedaan ketinggian dan memiliki potensi jatuh yang menyebabkan tenaga kerja atau orang lain yang berada di tempat kerja cedera atau meninggal dunia atau menyebabkan kerusakan harta benda.”

Suspension trauma, atau yang juga dikenal dengan istilah Orthostatic Intolerance atau Harness Hang Syndrome , adalah kondisi medis berbahaya yang terjadi ketika seseorang tergantung pada full body harness dalam posisi tegak (vertikal) tanpa pergerakan untuk jangka waktu tertentu.

Kondisi ini terjadi karena gravitasi menyebabkan darah berkumpul di bagian kaki. Ketika tubuh bergantung diam, otot-otot kaki tidak dapat berkontraksi untuk memompa kembali darah ke jantung. Akibatnya, terjadi penurunan aliran darah ke organ vital seperti otak dan jantung, yang dapat menyebabkan:

  • Penurunan tekanan darah
  • Kurangnya pasokan oksigen ke otak (hipoksia serebral)
  • Kehilangan kesadaran
  • Kerusakan organ
  • Kematian

Yang membuat trauma suspensi sangat berbahaya adalah periode serangannya yang cepat dan tidak dapat diprediksi. Gejala dapat muncul dalam waktu 5 menit pertama dan dapat berakibat fatal dalam 10-30 menit jika tidak segera ditangani.

Berbeda dengan kecelakaan jatuh pada umumnya, trauma suspense bukan disebabkan oleh trauma fisik atau benturan, melainkan oleh gangguan fisiologis yang terjadi pada tubuh tergantung secara pasif dalam waktu lama.

Mekanisme Terjadinya Suspensi Trauma

Penelitian dari Health and Safety Executive (HSE) Inggris menjelaskan bahwa trauma suspensi terjadi melalui mekanisme kompleks yang melibatkan beberapa faktor :

1. Penumpukan Darah di Kaki pada Kasus Trauma Suspensi

Ketika Ketika seseorang tergantung dalam posisi vertikal tanpa bergerak, gravitasi menarik darah ke bagian bawah tubuh, terutama ke kaki. Dalam kondisi normal, otot-otot kaki berkontraksi dan berfungsi sebagai “pompa vena” yang membantu mengalirkan darah kembali ke jantung. Namun, pada kondisi tergantung tanpa pergerakan, mekanisme pompa vena ini tidak berfungsi optimal.

Penumpukan darah di kaki mengakibatkan:

  • Berkurangnya volume darah yang kembali ke jantung (venous return)
  • Penurunan curah jantung (curah jantung)
  • Berkurangnya pasokan darah dan oksigen ke otak dan organ vital lainnya

2. Tekanan Leg Loop Harness sebagai Penyebab Trauma Suspensi

Tali Tali full body harness yang menopang tubuh, khususnya pada bagian leg loop (tali paha), dapat membantu pembuluh besar di paha, terutama darah vena femoralis . Tekanan ini menghambat aliran darah balik ke jantung sehingga darah cenderung terkumpul di ekstremitas bawah dan memperparah risiko trauma suspensi.

Menurut Weber dkk. (2020), trauma suspensi terjadi akibat tekanan yang terpusat pada satu titik sebagai hasil gaya berat tubuh yang disalurkan melalui full body harness, sehingga bagian tubuh yang bersentuhan langsung dengan harness menerima tekanan yang sebanding dengan berat tubuhnya sendiri. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Universitas Brawijaya (2024) oleh tim SANST (Safety Harness Anti-Suspension Trauma) yang menunjukkan bahwa tekanan pada area tali paha dapat memicu hambatan aliran darah dari ekstremitas bawah, sehingga mempercepat gangguan sirkulasi dan meningkatkan risiko dampak fisiologis serius.

3. Respone Vegal 

Studi terbaru menunjukkan bahwa trauma suspensi juga melibatkan peningkatan aktivitas sistem saraf vagal. Kombinasi antara penurunan tekanan darah dan aktivasi vagal dapat menyebabkan bradikardia (penurunan denyut jantung) yang membantu kondisi hipoperfusi otak.

Penelitian Suspension di Indonesia

Inovasi SANST oleh Mahasiswa Universitas Brawijaya

Merespons bahaya trauma suspensi, lima mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Brawijaya mengembangkan inovasi bernama SANST (Safety Harness Anti-Suspension Trauma) pada tahun 2024. Tim yang terdiri dari Wildan Putra Yuniartha, Muhammad Imron Rosyadi, Fadhel Bima Nabaalah, Khansa Nayottama, dan Elifes Ziliwu di bawah bimbingan Prof. Dr.-Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng., berhasil menciptakan modifikasi full body harness yang terintegrasi dengan :

  1. Airbag vest : Berfungsi mengurangi tekanan pada tubuh saat pekerja terjatuh dan tergantung, sehingga mengurangi penghambatan aliran darah akibat terjepit.
  2. Electric Muscle Stimulation (EMS) : Perangkat terapi yang dapat meningkatkan keheningan dan aliran darah pada serat otot, sehingga peran otot sebagai pompa darah menuju jantung tetap optimal meskipun tubuh dalam posisi pasif.

Prototipe SANST dirancang untuk aktif secara otomatis saat terjatuh, dengan sistem sensor load cell dan strain gauge yang mendeteksi tegangan dan regangan. Ketika pengguna terjatuh hingga load cell meregang, airbag akan mengembang dalam hitungan di bawah satu detik dan EMS juga aktif.

Pengujian prototipe SANST dilakukan di area latihan panjat tebing UKM IMPALA UB, dengan hasil yang menunjukkan bahwa kenyamanan pengguna selama tergantung bisa bertahan lebih lama dari waktu kritis di mana gejala-gejala trauma suspensi mulai terjadi.

Proyek ini disponsori oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dan Universitas Brawijaya melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta tahun 2024, menunjukkan komitmen Indonesia dalam mengembangkan solusi keselamatan kerja berbasis inovasi.

Siapa yang Berisiko Mengalami Trauma Suspensi di Pekerjaan Ketinggian?

Trauma suspensi dapat menimpa siapa saja yang menggunakan full body harness dalam pekerjaannya, antara lain:

  • Pekerja konstruksi di ketinggian
  • Pekerja pemeliharaan menara telekomunikasi
  • Teknisi listrik
  • Pekerja minyak & gas (platform lepas pantai)
  • Pekerja di ruang terbatas ( ruang terbatas )
  • Penebang kayu profesional
  • Pekerja atap ( roofer )
  • Pemanjat tebing dan aktivitas olahraga ekstrim

Menurut Permenaker No. 9 Tahun 2016, setiap pekerja yang melakukan pekerjaan pada ketinggian wajib menggunakan full body harness dan memiliki prosedur penyelamatan yang jelas untuk meminimalkan risiko trauma suspensi.

Dampak Jangka Panjang Trauma Suspensi pada Pekerja

Fase Awal (0-5 menit)

  • Sensasi panas pada tubuh
  • Rasa tidak nyaman pada area harness
  • Pusing dan kepala terasa ringan
  • Mulai merasakan tekanan di paha
  • Mual
  • Keringat dingin
  • Nadi cepat (takikardia)
  • Napas cepat (takipnea)
  • Tanda-tanda syok awal

Fase Menengah (5-10 menit)

  • Penglihatan kabur atau terganggu
  • Sulit untuk bertahan hidup
  • Kesadaran mulai menurun
  • Kecemasan meningkat
  • Sensasi mati rasa pada ekstremitas

Fase Kritis (10-30 menit)

  • Kehilangan kesadaran (sinkop)
  • Tidak responsif terhadap stimulus
  • Risiko kematian sangat tinggi
  • Kerusakan organ permanen dapat terjadi

Beberapa faktor dapat melemahkan kondisi korban, antara lain: cedera saat jatuh, kelelahan, dehidrasi, syok, gangguan kesehatan yang sudah ada sebelumnya, dan menggerakkan kaki.

Dampak Trauma Suspensi Jangka Panjang

Jika korban selamat dari episode trauma suspensi, mereka masih berisiko mengalami komplikasi jangka panjang, termasuk:

  • Gagal ginjal : Akibat rhabdomyolysis (kerusakan otot yang melepaskan protein mioglobin ke dalam darah)
  • Kerusakan jaringan otot : Iskemia yang berkepanjangan dapat menyebabkan nekrosis otot
  • Gangguan saraf : Akibat hipoksia otak yang berkepanjangan
  • Kompartemen : Sindrom Pembengkakan otot dalam ruang tertutup yang dapat menghambat aliran darah
  • Trauma psikologis : Kecemasan, PTSD, atau fobia ketinggian

Faktor Risiko yang Meningkatkan Kerentanan

Tidak semua orang memiliki toleransi yang sama terhadap trauma suspensi. Penelitian dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) Amerika Serikat mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi toleransi waktu suspensi:

  1. Berat badan dan ukuran tubuh : Pekerja dengan berat badan lebih besar cenderung memiliki toleransi waktu yang lebih pendek
  2. Kesesuaian ukuran harness : Harness yang tidak pas dapat mempercepat timbulnya trauma suspensi
  3. Kondisi kesehatan : Penyakit jantung, hipotensi ortostatik, dehidrasi, dan gangguan saraf meningkatkan risiko
  4. Kondisi saat kejadian : Kelelahan, cedera, syok traumatik, atau kehilangan kesadaran meningkatkan kondisi
  5. Suhu lingkungan : Panas ekstrem dapat mempercepat dehidrasi dan mengaktifkan pooling vena

Pencegahan Trauma Suspensi 

Pencegahan adalah kunci utama menghadapi bahaya trauma suspensi. Beberapa langkah pencegahan yang harus diterapkan:

1. Pemilihan dan Penggunaan Harness yang Tepat

  • Gunakan full body harness yang sesuai dengan ukuran tubuh
  • Pastikan harness telah memenuhi standar (ANSI Z359.1, EN 361, atau SNI)
  • Periksa kondisi harness sebelum digunakan
  • Pastikan semua gesper dan strap terpasang dengan benar
  • Posisikan D-ring dorsal di antara bahu, bukan terlalu tinggi atau rendah

2. Trauma Relief Strap untuk Mengurangi Risiko Trauma Suspensi

Tali pengaman trauma suspensi adalah alat bantu berbentuk loop atau sling yang dipasang pada harness. Tergantung pada itu, pekerja dapat menempatkan kaki pada tali ini untuk:

  • Menciptakan posisi semi-duduk
  • Mengaktifkan pompa vena pada otot kaki
  • Mengurangi tekanan harness pada paha
  • Memperpanjang waktu toleransi suspensi

Penelitian NIOSH menunjukkan bahwa penggunaan suspensi relief strap dapat memperpanjang waktu toleransi suspensi hingga 60 menit atau lebih.

3. Gerakan Aktif Saat Tergantung

Jika terjatuh dan tergantung, pekerja harus:

  • Segera aktifkan suspensi trauma strap jika tersedia
  • Lakukan gerakan pemanasan dengan kaki (dorong ke bawah kemudian rileks)
  • Angka lutut secara bergantian seperti gerakan bersepeda
  • Gerakkan tubuh untuk menghindari posisi statis
  • Berteriak atau gunakan radio komunikasi untuk meminta bantuan

4. Sistem Buddy dan Pengawasan

  • Tidak bekerja sendirian di ketinggian
  • Sistem pengawasan visual atau komunikasi berkelanjutan
  • Jarak antar pekerja harus memungkinkan respon cepat
  • Supervisor atau orang yang kompeten harus selalu tersedia

5. Peran Rencana Penyelamatan dalam Pencegahan Trauma Suspensi

  • Setiap proyek harus memiliki rencana penyelamatan tertulis
  • Tim penyelamat harus waspada dan siap siaga
  • Peralatan penyelamatan harus tersedia dan mudah diakses
  • Lakukan pengeboran secara pemeliharaan secara berkala
  • Target waktu pengawetan maksimal 10 menit

6. Kursi Kerja atau Alat Penentu Posisi

Untuk pekerjaan yang memerlukan posisi gantung dalam waktu lama (seperti akses tali atau pekerjaan fasad), gunakan kursi kerja atau alat pemosisian yang memungkinkan pekerja duduk, bukan hanya bergantung pada harness.

Pencegahan Trauma Suspensi Sesuai Permenaker No.9 Tahun 2016

Permenaker No. 9/2016 menetapkan beberapa persyaratan untuk mencegah dan menangani risiko trauma suspensi:

1.  Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat (Pasal 3 dan Pasal 44-50)
Pengusaha dan/atau pengurus wajib:

  • Menyusun prosedur darurat dan penyelamatan (rencana penyelamatan darurat)
  • Prosedur transaksi penyelamatan dapat dilakukan dalam waktu maksimal 10 menit
  • Menyediakan peralatan hemat yang memadai
  • Melatih tenaga kerja dalam prosedur penyelamatan
  • Melakukan simulasi konservasi secara berkala

2. Penggunaan Full Body Harness yang Tepat (Pasal 21-23)
Full body harness harus memenuhi standar minimal 15 kilonewton (sesuai EN 361)

  • Memiliki minimal dua D-ring (sternal dan dorsal)
  • Dilakukan inspeksi sebelum setiap penggunaan
  • Harness yang pernah menahan beban jatuh harus segera dikeluarkan dari peredaran

3. Pelatihan dan Kompetensi Pekerja (Pasal 31-32)
Setiap pekerja yang bekerja pada ketinggian wajib:

  • Memiliki Sertifikat Kompetensi dari lembaga yang berwenang
  • Pelatihan teknik penyelamatan diri dan rekan kerja
  • Memahami gejala dan penanganan trauma suspensi

4. Sistem Kerja yang Aman

  • Menerapkan sistem buddy system (tidak bekerja sendirian)
  • Menampilkan komunikasi yang efektif antara pekerja di ketinggian dengan tim di bawah
  • Menyediakan sistem pengawasan selama pekerjaan berlangsung

Pertolongan Pertama pada Korban Trauma Suspensi

Pertolongan Pertama pada Korban Suspension Trauma

Penanganan trauma suspensi memerlukan pendekatan khusus yang berbeda dari pertolongan pertama pada umumnya. Penelitian HSE (Health and Safety Executive) Inggris melalui laporan RR708 (2009) memberikan panduan berbasis bukti untuk penanganan korban trauma suspensi.

Prinsip Utama: Selamatkan Dulu, Obati Nanti

Prioritas utama adalah menurunkan korban dari posisi tergantung secepatnya dan pelaut mungkin. Setiap menit berlalu meningkatkan risiko kerusakan organ dan kematian.

Langkah-Langkah Penyelamatan

1. Aktivasi Sistem Darurat

  • Segera hubungi bantuan medis profesional
  • Aktifkan tim penyelamatan internal jika tersedia
  • Komunikasikan lokasi, kondisi korban, dan durasi suspensi

2. Penilaian Situasi (Penilaian Adegan)

  • Pastikan petugas penyelamat keamanan
  • Identifikasi bahaya tambahan
  • Tentukan metode penyelamatan yang paling cepat dan aman
  • Siapkan peralatan yang diperlukan

3. Proses Penurunan

  • Turunkan korban dengan metode yang paling cepat dan aman
  • Jika korban sadar, komunikasikan apa yang akan dilakukan
  • Hindari gerakan mendadak yang dapat menyebabkan cedera tambahan
  • Jika memungkinkan, turunkan dalam posisi semi-duduk

4. Posisi Korban Setelah Diturunkan – PENTING!

PERHATIAN KHUSUS: JANGAN LANGSUNG MEMBARINGKAN KORBAN!

Ini adalah aspek paling krusial dalam penanganan trauma suspensi. Penelitian awal menyebutkan risiko “reflow syndrome” atau “rescue death” jika korban langsung dibaringkan. Meskipun penelitian terbaru (HSE RR708, 2009) menunjukkan bukti ilmiah untuk reflow syndrome masih terbatas, pendekatan hati-hati tetap direkomendasikan:

Prosedur yang Direkomendasikan:

A. Korban Sadar dan Responsif:

  • Posisikan dalam posisi duduk dengan punggung tegak
  • Kaki lurus ke depan atau sedikit ditekuk
  • Jaga posisi ini selama minimal 20-30 menit
  • Pantau tanda vital secara kontinyu
  • Beri oksigen jika tersedia
  • Jaga rumah tubuh

B. Korban Tidak Sadar atau Tidak Responsif:

  • Jika tidak ada cedera tulang belakang: posisikan dalam posisi pemulihan (posisi pemulihan miring)
  • Jika ada dugaan cedera tulang belakang: jaga posisi netral dengan stabilisasi serviks manual
  • Jaga jalan napas tetap terbuka
  • Monitor bernapas dan nadi
  • Siap melakukan CPR jika diperlukan
  • Gunakan AED jika tersedia dan diperlukan

CATATAN PENTING: Panduan HSE terbaru tekanan bahwa korban yang tidak sadar harus diprioritaskan untuk menjaga jalan napas dan pernapasan. Risiko aspirasi pada korban tidak sadar lebih besar daripada risiko teoritis reflow syndrome.

5. Monitoring dan Stabilisasi

Monitor dan catat:

  • Tingkat kesadaran (AVPU atau GCS)
  • Peranasan: frekuensi dan kualitas
  • Nadi: Frekuensi dan kualitas
  • Tekanan darah jika memungkinkan
  • Warna kulit (pucat, kemerahan, sianosis)
  • Suhu tubuh
  • Durasi total suspensi

Tanda-tanda yang memerlukan perhatian khusus:

  • Penurunan tekanan
  • Pernapasan lambat atau tidak teratur
  • Nadi lemah atau tidak teratur
  • Pucat ekstrem atau sianosis
  • Tidak ada respon terhadap stimulus

6. Transportasi ke Fasilitas Medis

Semua korban trauma suspensi, bahkan yang tampak baik-baik saja, HARUS dibawa ke rumah sakit untuk evaluasi lebih lanjut. Komplikasi dapat muncul dalam beberapa jam setelah kejadian, termasuk:

  • Rhabdomyolysis (kerusakan otot masif)
  • Gagal ginjal akut
  • Aritmia jantung
  • Sindrom
  • Edema paru

Rekomendasi Terkini (Sesuai Guideline Internasional):

1. Prioritaskan ABC (Airway, Breathing, Circulation):

  • Pastikan jalan napas terbuka
  • Periksa angin
  • Monitor nadi

2. Posisi korban :

  • Jika tidak sadar : Tempatkan dalam posisi pemulihan ( recovery position ) atau terlentang
  • Jika sadar dan tidak cedera : Dapat duduk tegak dengan pengawasan ketat
  • Jika curiga cedera tulang belakang : Imobilisasi dengan teknik pelindung tulang belakang

3. Memantau tanda-tanda vital :

  • Tekanan darah
  • Denyut nadi
  • Tingkat tekanan
  • Saturasi oksigen (jika tersedia pulse oximeter)

4. Jangan biarkan korban :

  • Berdiri atau berjalan
  • Makan atau minum dulu
  • Melakukan aktivitas fisik
  1. Segera bawa ke rumah sakit : jika korban terlihat baik-baik saja, karena komplikasi dapat muncul kemudian

Catatan Penting untuk Praktisi di Indonesia
Mengingat masih adanya kontroversi dan perbedaan pedoman di berbagai sumber, yang terpenting adalah :

  1. Turunkan korban secepat mungkin (target < 10 menit)
  2. Prioritaskan ABC (Airway, Breathing, Circulation)
  3. Segera hubungi layanan medis profesional
  4. Bawa korban ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, terlepas dari kondisi awal
  5. Dokumentasikan kejadian untuk evaluasi dan pembelajaran

Praktisi K3 di Indonesia disarankan untuk mengikuti pelatihan terkini tentang penanganan trauma suspensi dan berkonsultasi dengan ahli medis untuk prosedur yang paling sesuai dengan kondisi dan fasilitas di tempat kerja masing-masing.

Alat Bantu Pencegahan Trauma Suspensi

1.  Tali Pengikat Pereda Trauma Gantung

Tali khusus yang dipasang pada full body harness yang dapat digunakan sebagai pijakan kaki darurat ketika tergantung. Penggunaan:

  • Tarik strap dan posisikan di bawah kaki
  • Berdiri di atas strap untuk mengurangi tekanan harness pada paha
  • Lakukan gerakan berdiri dan jongkok secara bergantian setiap 30 detik

2.  Kursi Kerja

Kursi kerja portabel yang dapat digunakan jika harus tergantung dalam waktu lama.

3.  Alat Komunikasi

Radio atau alat komunikasi lain untuk meminta bantuan segera.

Inovasi Teknologi: Penelitian dari Indonesia

Menghadapi bahaya trauma suspensi, mahasiswa MIPA Universitas Brawijaya mengembangkan inovasi bernama SANST (Safety Harness Anti-Suspension Trauma) pada tahun 2024. Penelitian ini dipimpin oleh tim yang terdiri dari Wildan Putra Yuniartha (Fisika), Muhammad Imron Rosyadi (Fisika), Fadhel Bima Nabaalah (Instrumentasi), Khansa Nayottama (Instrumentasi), dan Elifes Ziliwu (Kimia) di bawah bimbingan Prof. Dr.-Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng.

Konsep SANST

SANST merupakan modifikasi full body harness yang mengintegrasikan dua teknologi pencegahan trauma suspensi:

1. Rompi Airbag

  • Mengembang otomatis saat load cell mendeteksi tegangan jatuh
  • Mengurangi tekanan pada satu titik tubuh
  • Mendistribusikan beban ke area yang lebih luas
  • Mengembang dalam waktu kurang dari 1 detik

2. Stimulasi Otot Elektrik (EMS)

  • Aktif otomatis saat jatuh terdeteksi
  • Merangsang kontraksi otot ekstremitas bawah
  • Mempertahankan fungsi pompa vena
  • Meningkatkan persaudaraan dan aliran darah

Hasil Pengujian

Pengujian dilakukan di area latihan panjat tebing UKM IMPALA Universitas Brawijaya dengan dua jenis pengujian :

  1. Pengujian Sistem Aktivasi : Membuktikan bahwa sistem dapat mengaktifkan EMS dan mengembangkan airbag berdasarkan respon tegangan dan regangan
  2. Pengujian Dampak pada Pengguna : Menguji kenyamanan dan durasi toleransi suspensi

Hasil menunjukkan bahwa prototipe SANST dapat :

  • Mengaktifkan sistem secara otomatis saat jatuh
  • Memberikan kenyamanan lebih lama kepada pengguna
  • Memperpanjang waktu toleransi melampaui periode kritis (>15 menit)

Inovasi ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam mengembangkan teknologi K3 yang inovatif dan berbasis riset. Meskipun masih berupa prototipe, SANST membuka jalan bagi pengembangan full body harness generasi baru yang lebih aman.

Implemetasi di Tempat Kerja: Panduan Praktis

Untuk Manajemen dan HSE

1. Penyusunan Program Pencegahan

  • Lakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko khusus untuk trauma suspensi
  • Kembangkan prosedur kerja yang mencakup pencegahan dan penanganan trauma suspensi
  • Sediakan tali pengaman trauma suspensi untuk semua pekerja ketinggian
  • Pastikan rencana penyelamatan tertulis dan terkomunikasikan dengan baik

2. Pelatihan dan Kompetensi

  • Berikan pelatihan komprehensif tentang bahaya trauma suspensi
  • Latih pekerja dalam penggunaan strap pelepas suspensi
  • Latih tim penyelamatan dalam prosedur penyelamatan
  • Lakukan pelatihan penyegaran dan latihan secara berkala (minimal 6 bulan sekali)

3. Penyediaan Peralatan

  • Full body harness berkualitas dengan suspensi trauma strap
  • Peralatan penyelamatan yang memadai dan mudah diakses
  • Alat komunikasi untuk situasi darurat
  • Kotak P3K dengan peralatan monitoring (oksimeter, sphygmomanometer)

4. Sistem Pengawasan dan Pemantauan

  • Implementasi sistem izin bekerja untuk pekerjaan ketinggian
  • Pengawasan berkelanjutan saat pekerjaan berlangsung
  • Sistem check-in berkala untuk pekerja di area terpencil
  • Dokumentasi dan investigasi untuk setiap kejadian nyaris terjadi atau kejadian

Untuk Pekerja

Sebelum bekerja:

  • Inspeksi harness dan peralatan pelindung jatuh
  • Pastikan strap trauma suspensi terpasang dan mudah dijangkau
  • Pahami lokasi titik jangkar dan jalur penyelamatan
  • Komunikasikan dengan supervisor dan rekan kerja
  • Pastikan alat komunikasi berfungsi

Selama Bekerja:

  • Selalu gunakan full body harness sesuai prosedur
  • Jaga komunikasi dengan rekan kerja
  • Hindari bekerja di luar jangkauan visual tanpa sistem komunikasi
  • Jika merasa lelah atau tidak fit, segera komunikasikan

Jika Terjatuh dan Tergantung:

  • Tetap tenang dan jangan panik
  • Segera aktifkan strap trauma suspensi
  • Lakukan gerakan pompa dengan kaki
  • Panggilan bantuan melalui komunikasi
  • Jaga kesadaran dengan komunikasi dan gerakan

Kesimpulan

Sesuai Permena,pencegahan melalui peralatan dan prosedur yang tepat, deteksi dini terhadap gejala dan timeline trauma suspensi, penyelamatan cepat dengan target waktu kurang dari 10 menit, serta penanganan yang tepat berdasarkan protokol pertolongan pertama berdasarkan bukti. Kewajiban ini meliputi penyusunan prosedur penyelamatan, pelatihan pekerja, penyediaan peralatan pembekuan yang memadai, serta pelaksanaan simulasi secara berkala.

Inovasi teknologi keselamatan seperti SANST (Safety Harness Anti-Suspension Trauma) yang dikembangkan oleh mahasiswa Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa Indonesia mampu berkontribusi dalam pengembangan solusi keselamatan kerja. Dengan diterapkannya regulasi yang konsisten, pelatihan K3 yang mumpuni, dan dukungan teknologi inovatif, risiko kematian akibat trauma suspensi dapat diminimalkan secara signifikan.

Ingat: dalam kasus trauma suspensi, setiap menit sangat berharga. Penyelamatan yang cepat dan penanganan yang tepat dapat menjadi penentu antara hidup dan mati—bahkan ketika pekerja tampak baik-baik saja, risiko terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Daftar Pustaka

  1. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 386.
  2. BPJS Ketenagakerjaan . (2022). Data Kecelakaan Kerja Indonesia Tahun 2020-2022. Jakarta: BPJS Ketenagakerjaan.
  3. Yuniartha, WP, Rosyadi, MI, Nabaalah, FB, Nayottama, , & Ziliwu, E. (2024). SANST: Safety Harness Anti Suspension-Trauma sebagai Inovasi Full Body Harness yang Terintegrasi dengan Alat Terapi dan Airbag untuk Mencegah Trauma Suspensi. Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta Universitas Brawijaya. Didanai oleh Kemendikbud Ristek dan Universitas Brawijaya.
  4. Hsiao, , Turner, N., Whisler, R., & Zwiener, J. (2012). Dampak kesesuaian sabuk pengaman terhadap toleransi suspensi. Faktor Manusia , 54(3), 346-357. doi: 10.1177/0018720811434962
  5. Seddon, (2002). Penggantungan dengan sabuk pengaman: Tinjauan dan evaluasi informasi yang ada. Laporan Penelitian Eksekutif Kesehatan dan Keselamatan 451/2002. Buku HSE, Inggris.
  6. Lee, , & Porter, KM (2007). Trauma suspensi. Jurnal Kedokteran Darurat , 24(4), 237-238. doi: 10.1136/emj.2007.046391
  1. Adisesh, , Lee, C., & Porter, K. (2011). Suspensi sabuk pengaman dan manajemen pertolongan pertama: Pengembangan pedoman berbasis bukti. Jurnal Kedokteran Darurat , 28(4), 265-268. doi: 10.1136/emj.2009.074054
  2. Yuniartha, WP, Rosyadi, MI, Nabaalah, FB, Nayottama, K., & Ziliwu, E. (2024). SANST: Safety Harness Anti Suspension-Trauma sebagai Inovasi Full Body Harness yang Terintegrasi dengan Alat Terapi dan Airbag untuk Mencegah Trauma Suspensi. Program Kreativitas Mahasiswa Universitas Brawijaya.
  3. Thomassen, Ø., Skaiaa, SC, Brattebø, G., & Heltne, JK (2009). Apakah posisi horizontal meningkatkan risiko kematian penyelamatan setelah trauma gantung diri? Emergency Medicine Journal, 26(12), 896-898. doi: 10.1136/emj.2008.070433
  4. Pasquier, , Yersin, B., Vallotton, L., & Carron, PN (2011). Pembaruan klinis: trauma suspensi. Hutan Belantara & Pengobatan Lingkungan , 22(2), 167-171. doi: 10.1016/j.wem.2010.12.006
  1. Rauch, S., Schenk, K., Strapazzon, G., Dal Cappello, T., Gatterer, H., Palma, M., Erckert, M.,
  2. Oberhuber, L., Bliemsrieder, B., Brugger, H., & Paal, P. (2019). Sindrom suspensi: kolaps sirkulasi yang berpotensi fatal yang dimediasi oleh saraf vagus—percobaan silang acak eksperimental. European Journal of Applied Physiology , 119(6), 1353-1365. doi: 10.1007/s00421-019-04110-4
  3. Morrison, JB, & Conn, ML (2004). Toleransi suspensi pada sabuk pengaman seluruh tubuh, dan prototipe aksesori sabuk pengaman. Jurnal Asosiasi Higiene Industri Amerika , 65(2), 216-226. doi: 10.1080/15428110490424748
  4. Weber, , & Michels-Brendel, K. (1990). Uji toleransi suspensi pada tali pengaman: penyelidikan eksperimental terhadap waktu suspensi, posisi menjuntai, dan pergerakan tubuh. Zeitschrift untuk Arbeitswissenschaft , 44, 215-220
  5. Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OSHA) . (2004). Trauma Suspensi/Intoleransi Ortostatik. Buletin Informasi Keselamatan dan Kesehatan (SHIB) 03-24-2004. Departemen Tenaga Kerja
  6. Mortimer, RB (2011). Risiko dan Manajemen Penggantungan Berkepanjangan dalam Harness Alpine. Kedokteran Alam Liar dan Lingkungan, 22(1), 77-86.
  7. WorkSafe Queensland . (2023). Bekerja di ketinggian: Pencegahan dan perlindungan Pemerintah Queensland, Australia.
  8. Badan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Eropa (EU-OSHA) . (2020). Bekerja di ketinggian: Penilaian risiko dan langkah-langkah pencegahan. Uni Eropa.
  9. Zideman, DA, Singletary, EM, Borra, , dkk. (2021). Pedoman Dewan Resusitasi Eropa 2021: Pertolongan Pertama. Resusitasi , 161, 270-290. doi: 10.1016/j.resuscitation.2021.02.013
  10. Komite Resusitasi Australia dan Selandia Baru (ANZCOR) . Pedoman 9.1.5 – Penanganan Pertolongan Pertama Trauma Akibat Tersangkut Sabuk Pengaman. Diperoleh dari: https://www.anzcor.org
  11. Madsen, P., Svendsen, LB, Jørgensen, LG, Matzen, S., Jansen, E., & Secher, NH (1998). Toleransi terhadap Kemiringan Head-up dan Suspensi Dengan Kaki yang Ditinggikan. Kedokteran Penerbangan, Luar Angkasa dan Lingkungan, 69(8), 781-784.
  12. Badan Eksekutif Kesehatan dan Keselamatan (HSE). (2002). Penggantungan Sabuk Pengaman: Tinjauan dan Evaluasi Informasi yang Ada. Laporan Penelitian Kontrak 451/2002. Buku HSE, Norwich, Inggris.
  13. Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (NIOSH) . (2015). Mencegah Jatuh dari Ketinggian: Panduan untuk Menghilangkan Bahaya di Tempat Kerja. Publikasi DHHS (NIOSH) No. 2015-174.
  14. Komisi Internasional untuk Kedokteran Darurat Pegunungan (ICAR MEDCOM) . (2023). Sindrom suspensi: tinjauan cakupan dan Jurnal Skandinavia Trauma, Resusitasi dan Kedokteran Darurat , 31(1), 95. doi: 10.1186/s13049-023-01164-z

Bekerja di ketinggian tanpa pelatihan yang mampu menimbulkan risiko fatal. Pastikan Anda memahami risiko trauma suspensi, prosedur keselamatan, serta teknik pencegahan dan penyelamatan yang benar melalui Pelatihan Kerja di Ketinggian, Tenaga Kerja Bangunan Tinggi, Confined Space, Petugas P3K & Rescue K3 bersama AKUALITA. Meningkatkan kompetensi pekerja, mematuhi regulasi K3 yang berlaku, dan melindungi nyawa dengan pemahaman menyeluruh tentang risiko, standar keselamatan, serta metode penyelamatan yang tepat. Pelatihan dan Sertifikasi Kemnaker RI hanya di AKUALITA.

Artikel Lainnya : Mengenal PJK3: Peran Penting dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia

FAQ

Suspension trauma adalah kondisi medis berbahaya yang terjadi ketika seseorang tergantung pasif dalam fullbody harness sehingga aliran darah ke otak terganggu dan dapat menyebabkan pingsan hingga kematian.

Gejala dapat muncul dalam 5 menit pertama dan berisiko fatal dalam 10–30 menit jika tidak segera disimpan.

Tekanan tali harness pada paha menghambat aliran darah balik ke jantung dan menyebabkan pembekuan di kaki.

Pencegahan dilakukan dengan penggunaan harness yang tepat, trauma relief strap, rencana penyelamatan, serta pelatihan bekerja di ketinggian.

Ya. Pencegahan dan penyelamatan terkait pekerjaan di ketinggian diatur dalam Permenaker No. 9 Tahun 2016.

Jatuh menyebabkan cedera fisik akibat benturan, sedangkan trauma suspensi terjadi akibat gangguan fisiologis meskipun tidak ada benturan.

Risiko ini diatur dalam Permenaker No. 9 Tahun 2016 tentang K3 Pekerjaan pada Ketinggian, termasuk kewajiban prosedur penyelamatan dan pelatihan pekerja.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Picture of Hana Nuriy, SKM, MOHSSc

Hana Nuriy, SKM, MOHSSc

Picture of Anisa Hapsari, SKM

Anisa Hapsari, SKM

PT Adhikriya Kualita Utama (AKUALITA) adalah Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) resmi yang menyelenggarakan pelatihan sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kemnaker (Kementerian Ketenagakerjaan) dan sertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). 

AKUALITA juga menyediakan layanan konsultasi K3 yang mencakup keselamatan kerja, kesehatan kerja, lingkungan kerja, serta peningkatan sistem manajemen mutu di berbagai sektor industri.

Live Chat
Hubungi Customer Support kami untuk pertanyaan lebih lanjut
(Customer Support)
(Customer Support)
(Kritik dan Saran)
BNSP, Migas, dan Non Sertifikasi
Pelatihan & Sertifikasi Kemnaker
Live Chat
Hubungi Customer Support kami untuk pertanyaan lebih lanjut
(Kritik dan Saran)
(Customer Support)
(Customer Support)
BNSP, Migas, dan Non Sertifikasi
Pelatihan & Sertifikasi Kemnaker