Apa Itu HIMU? Panduan Lengkap Higiene Industri Muda dan Perbedaannya dengan Ahli K3 Lingkungan Kerja
Apa Itu HIMU?
HIMU adalah singkatan dari Higiene Industri Muda, yaitu salah satu jenjang kompetensi di bidang higiene industri yang dapat dibuktikan melalui mekanisme sertifikasi kompetensi BNSP sesuai skema sertifikasi yang berlaku.
Higiene industri merupakan bidang yang berfokus pada proses antisipasi, rekognisi atau pengenalan, evaluasi, dan pengendalian faktor bahaya di lingkungan kerja yang berpotensi memengaruhi kesehatan pekerja.
Sederhananya, seorang personel higiene industri perlu memahami beberapa hal penting:
bahaya kesehatan apa yang terdapat di tempat kerja;
dari mana sumber bahayanya berasal;
siapa pekerja yang berpotensi terpajan;
seberapa besar tingkat paparannya;
apakah hasil pengukuran masih memenuhi ketentuan; dan
pengendalian apa yang perlu dilakukan.
Karena itu, kompetensi HIMU tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pengukuran lingkungan kerja. Personel higiene industri juga perlu memahami identifikasi bahaya, evaluasi pajanan, interpretasi hasil pengukuran, hingga rekomendasi pengendalian risiko.
Apa Itu Higiene Industri?
Higiene industri atau industrial hygiene adalah disiplin yang berkaitan dengan upaya mengenali dan mengendalikan faktor lingkungan kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit akibat kerja, maupun ketidaknyamanan bagi pekerja.
Dalam praktik K3, pendekatan higiene industri sering digambarkan melalui empat tahapan utama:
1. Anticipation
Mengantisipasi potensi bahaya yang mungkin muncul sebelum pekerjaan atau proses produksi dilakukan.
2. Recognition
Mengenali sumber bahaya serta faktor lingkungan kerja yang dapat memengaruhi kesehatan pekerja.
3. Evaluation
Melakukan pengukuran dan evaluasi terhadap tingkat pajanan pekerja.
4. Control
Menentukan serta menerapkan pengendalian untuk mengurangi atau menghilangkan pajanan.
Konsep inilah yang menjadi dasar penting dalam pekerjaan seorang praktisi higiene industri.
Apa yang Dipelajari dalam HIMU?
Dalam penerapannya, kompetensi Higiene Industri Muda berkaitan dengan berbagai faktor bahaya di lingkungan kerja.
Beberapa di antaranya meliputi:
Faktor Fisika
Contohnya:
kebisingan;
getaran;
iklim kerja atau tekanan panas;
pencahayaan;
radiasi;
gelombang elektromagnetik; dan
faktor fisika lainnya.
Faktor Kimia
Meliputi pajanan terhadap:
gas;
uap;
debu;
fume;
mist;
aerosol; dan
berbagai bahan kimia berbahaya lainnya.
Faktor Biologi
Misalnya paparan:
bakteri;
virus;
jamur;
mikroorganisme; dan
agen biologis lainnya.
Faktor Ergonomi
Mencakup hubungan antara pekerja, alat, metode kerja, dan lingkungan kerja, seperti:
postur kerja;
aktivitas manual handling;
pekerjaan berulang;
beban kerja fisik; dan
desain area kerja.
Faktor Psikologi
Faktor psikologi atau psikososial juga menjadi bagian penting dari K3 lingkungan kerja, termasuk beban kerja mental dan kondisi organisasi pekerjaan.
Dengan demikian, HIMU tidak hanya membahas “cara menggunakan alat ukur”, tetapi juga bagaimana hasil identifikasi dan pengukuran digunakan untuk menentukan pengendalian yang tepat.
HIMU dan Permenaker No. 5 Tahun 2018
Pembahasan mengenai higiene industri di Indonesia sangat berkaitan dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.
Permenaker No. 5 Tahun 2018 mengatur persyaratan K3 lingkungan kerja dan pengendalian terhadap berbagai faktor yang terdapat di tempat kerja.
Faktor tersebut mencakup:
faktor fisika;
faktor kimia;
faktor biologi;
faktor ergonomi; dan
faktor psikologi.
Regulasi ini juga menjadi salah satu rujukan penting dalam penerapan Nilai Ambang Batas atau NAB terhadap berbagai faktor lingkungan kerja.
Artinya, kegiatan higiene industri bukan sekadar aktivitas teknis untuk mendapatkan angka hasil pengukuran.
Hasil pengukuran perlu dibandingkan dengan standar atau ketentuan yang berlaku sehingga organisasi dapat menentukan apakah kondisi lingkungan kerja masih dapat diterima atau membutuhkan tindakan pengendalian.
Apa Itu Ahli K3 Lingkungan Kerja?
Selain HIMU, terdapat pula jalur Ahli K3 Lingkungan Kerja dalam lingkup Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.
Ahli K3 Lingkungan Kerja berhubungan dengan pelaksanaan K3 pada faktor lingkungan kerja serta pengendalian terhadap potensi bahaya yang dapat memengaruhi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja.
Dalam praktiknya, kompetensi Ahli K3 Lingkungan Kerja memiliki banyak irisan dengan bidang higiene industri.
Keduanya sama-sama mempelajari bagaimana:
mengidentifikasi bahaya;
memahami sumber pajanan;
melakukan atau mengevaluasi pengukuran lingkungan kerja;
membandingkan hasil dengan standar;
menganalisis risiko kesehatan pekerja; dan
merekomendasikan pengendalian.
Karena itu, cukup wajar apabila materi HIMU BNSP dan Ahli K3 Lingkungan Kerja Kemnaker RI terasa mirip.
Apa Perbedaan HIMU dan Ahli K3 Lingkungan Kerja?
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah:
“Apa perbedaan HIMU dan Ahli Lingkungan Kerja?”
Perbedaan utamanya bukan pada bidang ilmunya, tetapi lebih banyak terdapat pada jalur sertifikasi dan sistem pengakuan kompetensinya.
Aspek
HIMU
Ahli K3 Lingkungan Kerja
Kepanjangan
Higiene Industri Muda
Ahli K3 Lingkungan Kerja
Jalur
Sertifikasi kompetensi
Pembinaan/sertifikasi K3
Lembaga
BNSP melalui LSP
Kemnaker RI
Fokus
Kompetensi higiene industri
Penerapan K3 lingkungan kerja
Bidang
Industrial Hygiene
K3 Lingkungan Kerja
Evaluasi
Asesmen kompetensi sesuai skema
Sesuai ketentuan pembinaan Kemnaker
Materi
Identifikasi, evaluasi, pengukuran dan pengendalian pajanan
Identifikasi, pengukuran, evaluasi dan pengendalian lingkungan kerja
HIMU dan Ahli K3 Lingkungan Kerja memiliki bidang kompetensi yang sangat berdekatan.
Namun sertifikasi keduanya berada dalam sistem yang berbeda.
Secara sederhana:
HIMU → jalur sertifikasi kompetensi BNSP
Ahli K3 Lingkungan Kerja → jalur Kemnaker RI
Apakah HIMU Sama dengan Ahli Lingkungan Kerja?
Tidak sepenuhnya sama.
Dari sisi administrasi, sistem sertifikasi, lembaga penerbit, serta metode pengakuan kompetensi, keduanya merupakan program yang berbeda.
Namun dari sisi kompetensi teknis, terdapat irisan materi yang cukup besar.
Baik HIMU maupun Ahli K3 Lingkungan Kerja sama-sama berkaitan dengan:
higiene industri;
identifikasi bahaya lingkungan kerja;
pengukuran lingkungan kerja;
faktor fisika;
faktor kimia;
faktor biologi;
ergonomi;
faktor psikologi;
evaluasi pajanan;
Nilai Ambang Batas;
pengendalian risiko; dan
rekomendasi perbaikan lingkungan kerja.
Karena itu, lebih tepat jika HIMU dan Ahli K3 Lingkungan Kerja dipahami sebagai dua jalur pengakuan kompetensi yang berbeda dalam bidang yang sangat beririsan.
Mengapa Pengukuran Lingkungan Kerja Penting?
Bahaya lingkungan kerja tidak selalu dapat dikenali hanya dengan pengamatan.
Suara yang terdengar “tidak terlalu keras” belum tentu berada di bawah NAB kebisingan.
Lingkungan kerja yang terasa panas juga perlu dievaluasi menggunakan metode pengukuran yang sesuai.
Demikian pula dengan paparan gas, uap, debu, bahan kimia, pencahayaan, getaran, maupun faktor ergonomi.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan proses yang sistematis berupa:
Pengukuran memberikan data objektif yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat pajanan dan efektivitas pengendalian.
Apa Hubungan HIMU dengan Nilai Ambang Batas atau NAB?
Salah satu konsep penting yang perlu dipahami praktisi higiene industri adalah Nilai Ambang Batas atau NAB.
NAB digunakan sebagai acuan dalam mengevaluasi pajanan berbagai faktor lingkungan kerja.
Namun membaca hasil pengukuran tidak cukup hanya dengan menentukan apakah suatu angka “di atas atau di bawah NAB”.
Praktisi higiene industri juga perlu mempertimbangkan:
durasi pajanan;
frekuensi pajanan;
karakteristik pekerjaan;
sumber pajanan;
kelompok pekerja yang terpajan;
efektivitas pengendalian; dan
kondisi aktual di tempat kerja.
Karena itu, kompetensi personel menjadi bagian penting dalam proses evaluasi lingkungan kerja.
Siapa yang Cocok Mengikuti Sertifikasi HIMU?
Sertifikasi Higiene Industri Muda dapat relevan bagi profesional yang bekerja atau ingin mengembangkan karier di bidang:
Health, Safety and Environment atau HSE;
Occupational Health and Safety;
Industrial Hygiene;
K3 lingkungan kerja;
SHE atau QHSE;
occupational health;
laboratorium lingkungan kerja;
pengukuran lingkungan kerja;
pengelolaan risiko kesehatan pekerja; dan
fungsi lain yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja.
Persyaratan peserta tetap perlu disesuaikan dengan skema sertifikasi serta ketentuan LSP yang digunakan.
Apakah HIMU Memiliki Jenjang?
Bidang higiene industri mempunyai jenjang kompetensi.
Secara umum, pengembangan kompetensi higiene industri bergerak dari tingkat awal atau muda menuju jenjang kompetensi yang lebih tinggi.
Di Indonesia dikenal istilah seperti:
HIMU – Higiene Industri Muda
HIMA – Higiene Industri Madya
HIU – Higiene Industri Utama
Jenjang tersebut menggambarkan perkembangan tingkat kompetensi seorang profesional higiene industri.
Semakin tinggi jenjangnya, tuntutan terhadap kemampuan analisis, evaluasi, penyusunan program, pengendalian, dan pengelolaan higiene industri juga semakin besar.
Karena itu, bagi profesional yang ingin membangun karier secara khusus dalam bidang Industrial Hygiene, HIMU dapat menjadi salah satu tahapan awal pengembangan kompetensi.
Ketentuan persyaratan untuk naik jenjang perlu tetap mengacu pada skema sertifikasi yang berlaku pada saat pendaftaran.
HIMU atau Ahli K3 Lingkungan Kerja, Mana yang Sebaiknya Diambil?
Tidak ada satu pilihan yang otomatis lebih baik untuk semua orang.
Pilihan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan profesional dan perusahaan.
Pilih HIMU jika:
Anda membutuhkan pengakuan kompetensi melalui sertifikasi BNSP dan ingin membangun jalur kompetensi profesional di bidang higiene industri.
Pilih Ahli K3 Lingkungan Kerja jika:
Kebutuhan Anda lebih berkaitan dengan penerapan K3 lingkungan kerja serta sistem pembinaan Kemnaker RI.
Mengambil keduanya?
Bagi profesional tertentu, mengikuti kedua jalur tersebut dapat memberikan nilai tambah karena materi teknisnya memiliki banyak irisan, sementara hasil akhirnya memberikan pengakuan melalui dua sistem sertifikasi yang berbeda.
Namun sebelum mendaftar, tetap penting memastikan program yang dipilih sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, persyaratan perusahaan, dan ketentuan terbaru dari lembaga terkait.
Mengapa Perusahaan Membutuhkan Kompetensi Higiene Industri?
Penerapan higiene industri membantu perusahaan membuat keputusan K3 berdasarkan data.
Melalui proses identifikasi, pengukuran, dan evaluasi, perusahaan dapat mengetahui:
faktor bahaya apa yang terdapat di area kerja;
pekerja mana yang paling berpotensi terpajan;
apakah tingkat pajanan masih dalam batas yang diperbolehkan;
pengendalian apa yang perlu diperbaiki; dan
apakah pengendalian yang sudah diterapkan efektif.
Upaya ini mendukung pencegahan penyakit akibat kerja, peningkatan kualitas lingkungan kerja, dan penerapan sistem manajemen K3 yang lebih efektif.
Prinsip tersebut juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja serta penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau SMK3 sebagaimana diatur dalam PP No. 50 Tahun 2012.
Tersedia juga program Ahli K3 Lingkungan Kerja Kemnaker RI bagi peserta yang membutuhkan jalur kompetensi dan pembinaan dalam lingkup Kementerian Ketenagakerjaan.
Sebelum menentukan program, peserta dapat menyesuaikan pilihan berdasarkan:
kebutuhan perusahaan;
latar belakang pendidikan;
pengalaman kerja;
persyaratan skema;
tujuan pengembangan karier; dan
jenis pengakuan kompetensi yang dibutuhkan.
Hubungi tim AKUALITA untuk konsultasi mengenai jadwal pelatihan HIMU BNSP, persyaratan sertifikasi HIMU, Ahli K3 Lingkungan Kerja Kemnaker RI, serta pilihan program yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda.
Kesimpulan
HIMU adalah Higiene Industri Muda, yaitu jenjang kompetensi yang berkaitan dengan identifikasi, evaluasi, dan pengendalian faktor bahaya kesehatan di lingkungan kerja.
HIMU BNSP dan Ahli K3 Lingkungan Kerja Kemnaker RI bukanlah dua bidang yang sepenuhnya berbeda.
Keduanya memiliki banyak irisan dalam hal higiene industri, pengukuran lingkungan kerja, evaluasi pajanan, Nilai Ambang Batas, serta pengendalian risiko kesehatan pekerja.
Perbedaan utamanya terletak pada jalur sertifikasi dan sistem pengakuannya:
HIMU → Sertifikasi Kompetensi BNSP
Ahli K3 Lingkungan Kerja → Kemnaker RI
Memahami perbedaan tersebut membantu calon peserta menentukan program yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan maupun rencana pengembangan kariernya.
Referensi
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Menjadi dasar hukum utama penyelenggaraan keselamatan kerja di Indonesia, termasuk upaya perlindungan tenaga kerja terhadap berbagai potensi bahaya di tempat kerja.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Mengatur penerapan SMK3 sebagai bagian dari sistem manajemen perusahaan dalam rangka mengendalikan risiko terkait kegiatan kerja.
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. Menjadi salah satu rujukan utama terkait faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi, psikologi, pengukuran lingkungan kerja, serta Nilai Ambang Batas.
Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Informasi mengenai sistem sertifikasi kompetensi profesi, Lembaga Sertifikasi Profesi, serta skema sertifikasi kompetensi dapat merujuk pada ketentuan resmi BNSP melalui bnsp.go.id.
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Informasi mengenai regulasi, K3, pembinaan K3, dan ketentuan terkait lingkungan kerja dapat dirujuk melalui kanal resmi kemnaker.go.id dan sistem informasi K3 Kementerian Ketenagakerjaan.
International Labour Organization (ILO). Occupational Safety and Health. Referensi internasional mengenai upaya pengendalian bahaya dan perlindungan kesehatan pekerja di lingkungan kerja.
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Referensi teknis mengenai occupational exposure, industrial hygiene, sampling, serta pengendalian bahaya kesehatan di tempat kerja.
American Industrial Hygiene Association (AIHA). Referensi profesional mengenai industrial hygiene dan pendekatan anticipation, recognition, evaluation, and control terhadap bahaya kesehatan di lingkungan kerja.
HIMU BNSP adalah sertifikasi kompetensi bidang Higiene Industri Muda yang dilaksanakan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi dalam sistem sertifikasi kompetensi BNSP sesuai skema yang berlaku.
Secara umum, kompetensinya berkaitan dengan pengenalan faktor bahaya, evaluasi pajanan, pengukuran lingkungan kerja, interpretasi hasil, serta rekomendasi pengendalian terhadap faktor yang berpotensi memengaruhi kesehatan pekerja.
Perbedaan utama terdapat pada jalur sertifikasinya. HIMU berada pada jalur sertifikasi kompetensi BNSP, sedangkan Ahli K3 Lingkungan Kerja berada dalam lingkup Kemnaker RI. Dari sisi teknis, kompetensinya memiliki banyak irisan.
HIMU berkaitan dengan identifikasi, evaluasi, pengukuran, dan pengendalian faktor lingkungan kerja, termasuk faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi, dan faktor terkait kesehatan kerja.
Dalam pengembangan kompetensi higiene industri dikenal jenjang Higiene Industri Muda (HIMU), Higiene Industri Madya (HIMA), dan Higiene Industri Utama (HIU) sesuai skema sertifikasi dan persyaratan yang berlaku.
Ya. Kompetensi higiene industri relevan bagi personel HSE, SHE, QHSE, K3 lingkungan kerja, occupational health, maupun profesional yang bertanggung jawab terhadap pengendalian pajanan di tempat kerja.
Perusahaan perlu memastikan persyaratan K3 lingkungan kerja terpenuhi sesuai karakteristik bahaya dan ketentuan yang berlaku. Pengukuran merupakan salah satu metode penting untuk mengevaluasi tingkat pajanan terhadap faktor lingkungan kerja.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Hana Nuriy, SKM, MOHSSc
PT Adhikriya Kualita Utama (AKUALITA) adalah Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) resmi yang menyelenggarakan pelatihan sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kemnaker (Kementerian Ketenagakerjaan) dan sertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).
AKUALITA juga menyediakan layanan konsultasi K3 yang mencakup keselamatan kerja, kesehatan kerja, lingkungan kerja, serta peningkatan sistem manajemen mutu di berbagai sektor industri.