Root Cause Analysis Kecelakaan Kerja: Memilih Metode Swiss Cheese, Bow Tie, atau FRAM
Ketika kecelakaan kerja terjadi, pertanyaan yang sering muncul adalah, “Siapa yang melakukan kesalahan?”
Pertanyaan tersebut dapat membuat proses investigasi berhenti pada tindakan pekerja. Padahal, kecelakaan kerja umumnya tidak terbentuk hanya karena satu tindakan, satu kondisi tidak aman, atau satu kesalahan manusia.
Suatu insiden dapat dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, seperti:
kondisi peralatan;
desain pekerjaan;
kelemahan prosedur;
komunikasi yang tidak efektif;
pengawasan;
kompetensi;
tekanan waktu;
perubahan kondisi operasional;
keputusan organisasi;
kegagalan sistem pengendalian.
Karena itu, root cause analysis kecelakaan kerja seharusnya tidak hanya mencari siapa yang terlibat. Investigasi perlu memahami apa yang terjadi, bagaimana kejadian berkembang, pengendalian apa yang gagal, dan mengapa sistem organisasi memungkinkan kegagalan tersebut terjadi.
Pendekatan ini membantu perusahaan menghasilkan rekomendasi yang tidak berhenti pada imbauan “lebih berhati-hati” atau “melakukan pelatihan ulang”, tetapi benar-benar memperkuat sistem keselamatan kerja.
Apa Itu Root Cause Analysis Kecelakaan Kerja?
Root cause analysis atau analisis akar penyebab merupakan proses untuk mengidentifikasi faktor-faktor mendasar yang berkontribusi terhadap suatu kecelakaan atau insiden.
Namun, istilah “akar penyebab” sering disalahartikan sebagai satu penyebab utama yang harus ditemukan.
Dalam kenyataannya, kecelakaan kerja sering kali tidak memiliki satu akar penyebab tunggal. Suatu kejadian dapat terbentuk dari interaksi antara manusia, peralatan, lingkungan kerja, prosedur, pengawasan, dan kebijakan organisasi.
Karena itu, root cause analysis perlu dilakukan sebagai bagian dari proses investigasi yang lebih luas, meliputi:
pengamanan lokasi kejadian;
pengumpulan bukti;
wawancara saksi;
penyusunan kronologi;
identifikasi faktor penyebab;
evaluasi kegagalan pengendalian;
penyusunan rekomendasi;
pemantauan tindak lanjut.
Dengan demikian, root cause analysis bukan hanya mencari “mengapa kecelakaan terjadi”, tetapi juga memahami bagaimana kondisi sistem memungkinkan kejadian tersebut berkembang.
Investigasi Kecelakaan Berdasarkan OHS Body of Knowledge
Dalam OHS Body of Knowledge Chapter 12.6.1: Investigations, investigasi dipahami sebagai proses sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi terkait suatu kejadian.
Investigasi yang efektif tidak hanya berfokus pada penyebab langsung. Investigator juga perlu mempertimbangkan faktor yang lebih luas, seperti:
kondisi pekerjaan sebelum kejadian;
tindakan dan keputusan yang diambil;
pengendalian yang tersedia;
pengendalian yang tidak berfungsi;
faktor manusia;
kondisi organisasi;
pengaruh lingkungan kerja;
perbedaan antara prosedur dan praktik aktual.
Sementara itu, OHS Body of Knowledge Chapter 32: Models of Causation – Safety menjelaskan bahwa cara organisasi memahami penyebab kecelakaan berkembang dari model sederhana menuju model yang lebih kompleks dan sistemik.
Perkembangan tersebut penting karena metode investigasi perlu disesuaikan dengan karakteristik kejadian.
Insiden sederhana mungkin dapat dianalisis melalui kronologi dan hubungan sebab-akibat. Namun, kejadian yang melibatkan banyak fungsi, teknologi, tekanan waktu, dan perubahan kondisi memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.
Memahami Accident Causation Model
Accident causation model merupakan kerangka yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana kecelakaan dapat terbentuk.
Secara umum, model penyebab kecelakaan dapat dilihat melalui tiga pendekatan utama.
1. Model Linear
Model linear melihat kecelakaan sebagai rangkaian sebab dan akibat yang relatif berurutan.
Sebagai contoh:
kondisi tidak aman → tindakan tidak aman → kehilangan kendali → kecelakaan → kerugian
Pendekatan ini membantu investigator dalam:
menyusun urutan kejadian;
mengidentifikasi tindakan dan kondisi tidak aman;
menentukan titik awal kegagalan;
menemukan hubungan langsung antarperistiwa;
melakukan analisis awal menggunakan 5 Why atau Fishbone Diagram.
Namun, model linear dapat menjadi terlalu sederhana apabila digunakan untuk menganalisis kejadian yang melibatkan banyak fungsi dan perubahan kondisi.
2. Model Epidemiologis
Model epidemiologis melihat kecelakaan sebagai hasil kombinasi antara kegagalan aktif, kondisi laten, dan kelemahan lapisan pertahanan.
Salah satu model yang paling dikenal dalam pendekatan ini adalah Swiss Cheese Model.
Model ini membantu menjelaskan bahwa kecelakaan tidak hanya terjadi karena tindakan seseorang, tetapi juga karena kelemahan yang telah lama berada di dalam organisasi.
3. Model Sistemik
Model sistemik melihat kecelakaan sebagai hasil interaksi berbagai fungsi dalam suatu sistem kerja.
Dalam sistem yang kompleks, kecelakaan tidak selalu terjadi karena satu komponen rusak atau satu orang melakukan kesalahan.
Kejadian dapat muncul ketika berbagai variasi pekerjaan yang normal terjadi secara bersamaan dan saling memengaruhi.
Pendekatan ini menjadi dasar penggunaan metode seperti Functional Resonance Analysis Method atau FRAM.
Swiss Cheese Model dalam Root Cause Analysis
Swiss Cheese Model dikembangkan oleh James Reason untuk menjelaskan bagaimana organisasi memiliki beberapa lapisan pertahanan terhadap bahaya.
Lapisan pertahanan tersebut dapat berupa:
desain peralatan;
guarding;
sistem interlock;
prosedur kerja;
izin kerja;
inspeksi;
pengawasan;
kompetensi pekerja;
alat pelindung diri;
sistem komunikasi;
audit dan evaluasi.
Setiap lapisan pertahanan dapat memiliki kelemahan yang digambarkan sebagai lubang pada keju Swiss.
Kecelakaan dapat terjadi ketika kelemahan pada beberapa lapisan tersebut berada dalam posisi yang memungkinkan bahaya melewati seluruh sistem pertahanan.
Active Failure
Active failure merupakan kegagalan yang terjadi dekat dengan waktu kecelakaan.
Contohnya:
salah mengoperasikan peralatan;
melewati tahapan pemeriksaan;
memasuki area berbahaya;
salah membaca indikator;
tidak mengikuti prosedur;
tidak menggunakan alat pelindung diri.
Active failure sering mudah terlihat karena terjadi langsung sebelum insiden.
Namun, berhenti pada active failure dapat membuat hasil investigasi menjadi terlalu dangkal.
Latent Condition
Latent condition adalah kondisi tersembunyi yang telah berada di dalam sistem sebelum kecelakaan terjadi.
Contohnya:
prosedur tidak sesuai kondisi lapangan;
pemeliharaan tertunda;
beban kerja terlalu tinggi;
desain peralatan menyulitkan pekerjaan;
komunikasi antarbagian tidak efektif;
pengawasan tidak berjalan;
target produksi tidak mempertimbangkan risiko;
kompetensi tidak sesuai pekerjaan;
hasil inspeksi tidak ditindaklanjuti;
perubahan proses tidak dikaji dengan baik.
Swiss Cheese Model membantu investigator memahami bahwa tindakan pekerja sering kali merupakan bagian akhir dari rangkaian kegagalan yang lebih luas.
Mengapa pekerja melakukan kesalahan?
Investigator juga perlu menanyakan:
Mengapa sistem tidak mampu mencegah atau mendeteksi kesalahan tersebut sebelum menimbulkan kecelakaan?
Kapan Swiss Cheese Digunakan?
Swiss Cheese Model sesuai digunakan ketika investigator ingin:
mengidentifikasi lapisan pertahanan;
membedakan kegagalan aktif dan kondisi laten;
memahami kontribusi faktor organisasi;
mengevaluasi bagaimana bahaya melewati sistem pengendalian;
menghindari kesimpulan yang hanya menyalahkan pekerja.
Namun, Swiss Cheese bukan teknik root cause analysis yang berdiri sendiri. Model ini tetap perlu didukung oleh data, kronologi, bukti, wawancara, dan analisis pengendalian.
Bow Tie Analysis untuk Mengevaluasi Kegagalan Pengendalian
Bow Tie Analysis merupakan metode yang menggambarkan hubungan antara sumber bahaya, ancaman, kejadian puncak, konsekuensi, dan pengendalian.
Bentuk diagramnya menyerupai dasi kupu-kupu.
Bagian kiri menggambarkan faktor yang dapat menyebabkan hilangnya kendali. Bagian kanan menggambarkan konsekuensi dan pengendalian untuk membatasi dampaknya.
Hazard
Hazard adalah sumber yang memiliki potensi menimbulkan kerugian.
Contohnya:
energi listrik;
tekanan;
bahan kimia;
alat angkat;
gas berbahaya;
mesin bergerak;
pekerjaan di ketinggian;
material mudah terbakar.
Threat
Threat adalah kondisi atau kejadian yang dapat menyebabkan hilangnya kendali terhadap bahaya.
Contohnya:
kegagalan peralatan;
salah konfigurasi;
beban berlebih;
komunikasi tidak efektif;
perubahan kondisi lingkungan;
prosedur tidak memadai;
kesalahan pemasangan;
kegagalan inspeksi.
Top Event
Top event merupakan kondisi ketika kendali terhadap bahaya mulai hilang.
Contohnya:
beban terlepas dari crane;
bahan kimia keluar dari sistem;
pekerja kehilangan keseimbangan;
energi listrik tidak terisolasi;
gas berbahaya memasuki area kerja;
kendaraan kehilangan kendali.
Top event belum tentu merupakan kecelakaan. Namun, top event menandai bahwa bahaya sudah tidak lagi berada dalam kondisi terkendali.
Preventive Control
Preventive control adalah pengendalian yang bertujuan mencegah threat berkembang menjadi top event.
Contohnya:
inspeksi alat;
kompetensi operator;
lifting plan;
permit to work;
lockout tagout;
sistem interlock;
alarm;
prosedur operasi;
verifikasi sebelum pekerjaan.
Consequence
Contohnya:
cedera;
kebakaran;
ledakan;
paparan bahan kimia;
kerusakan aset;
gangguan operasional;
pencemaran lingkungan.
Mitigative Control
Mitigative control adalah pengendalian yang bertujuan mengurangi tingkat keparahan akibat kejadian.
Contohnya:
emergency shutdown;
sistem deteksi;
APAR;
jalur evakuasi;
tim tanggap darurat;
pertolongan pertama;
emergency response plan.
Bow Tie dalam Investigasi Kecelakaan
Dalam root cause analysis kecelakaan kerja, Bow Tie dapat digunakan untuk mengevaluasi:
pengendalian apa yang seharusnya tersedia;
apakah pengendalian benar-benar diterapkan;
apakah pengendalian berfungsi saat dibutuhkan;
faktor apa yang menurunkan efektivitas pengendalian;
apakah terdapat ketergantungan berlebihan pada prosedur;
apakah rekomendasi sudah memperkuat pengendalian kritis.
Bow Tie sangat relevan untuk investigasi pada pekerjaan berisiko tinggi, seperti:
lifting operation;
confined space;
process safety;
pekerjaan panas;
kelistrikan;
alat berat;
pekerjaan di ketinggian;
penyimpanan dan penggunaan bahan kimia.
Bow Tie juga membantu investigator membedakan antara kegagalan pengendalian pencegahan dan kegagalan pengendalian mitigasi.
FRAM untuk Menganalisis Sistem Kerja yang Kompleks
Functional Resonance Analysis Method atau FRAM dikembangkan oleh Erik Hollnagel untuk memahami bagaimana berbagai fungsi dalam sistem kerja saling berinteraksi.
Berbeda dengan analisis konvensional yang mencari satu rangkaian penyebab, FRAM melihat bahwa hasil yang tidak diinginkan dapat muncul dari kombinasi variasi kinerja yang masih dianggap normal.
Dalam kondisi nyata, pekerjaan tidak selalu dilakukan persis seperti yang tertulis dalam prosedur.
Pekerja dapat melakukan penyesuaian karena:
keterbatasan waktu;
perubahan kondisi lapangan;
sumber daya terbatas;
informasi tidak lengkap;
prioritas pekerjaan;
gangguan operasional;
ketergantungan terhadap fungsi lain;
kondisi peralatan;
target yang harus dicapai.
Penyesuaian tersebut tidak selalu salah dan tidak selalu menimbulkan kecelakaan.
Namun, ketika variasi pada beberapa fungsi terjadi bersamaan, interaksinya dapat menghasilkan kondisi yang tidak diperkirakan.
Work-as-Imagined dan Work-as-Done
Dalam pendekatan sistemik, terdapat perbedaan antara:
Work-as-Imagined, yaitu bagaimana pekerjaan direncanakan, ditulis dalam prosedur, atau dipahami oleh manajemen.
Work-as-Done, yaitu bagaimana pekerjaan benar-benar dilakukan dalam kondisi nyata.
Perbedaan tersebut dapat terjadi karena kondisi lapangan tidak selalu sama dengan asumsi yang digunakan ketika prosedur dibuat.
FRAM membantu investigator memahami perbedaan tersebut tanpa langsung menyimpulkan bahwa pekerja sengaja melanggar prosedur.
Enam Aspek dalam FRAM
Setiap fungsi dalam FRAM dianalisis melalui enam aspek:
Input Sesuatu yang memulai atau diproses oleh fungsi.
Output Hasil yang dihasilkan oleh fungsi.
Precondition Kondisi yang harus tersedia sebelum fungsi dilakukan.
Resource Sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi.
Control Prosedur, aturan, target, pengawasan, atau batasan yang mengendalikan fungsi.
Time Kebutuhan, batasan, atau tekanan waktu dalam pelaksanaan fungsi.
Kapan FRAM Digunakan?
FRAM relevan digunakan ketika kejadian melibatkan:
banyak departemen;
pekerjaan nonrutin;
perubahan kondisi secara cepat;
interaksi manusia dan teknologi;
tekanan waktu;
ketergantungan antaraktivitas;
keputusan operasional yang dinamis;
perbedaan antara prosedur dan praktik aktual;
sistem yang sulit dijelaskan melalui satu rangkaian sebab-akibat.
Sebagai contoh, kecelakaan dapat terjadi bukan karena satu fungsi gagal total, tetapi karena:
proses serah terima terlambat;
informasi belum lengkap;
pekerjaan dipercepat;
personel terbatas;
kondisi lapangan berubah;
fungsi lain belum menyelesaikan tugasnya.
Ketika variasi tersebut saling berinteraksi dan memperkuat satu sama lain, dapat terjadi functional resonance.
Karena itu, FRAM tidak berusaha menemukan satu akar penyebab tunggal. FRAM digunakan untuk memahami bagaimana sistem bekerja dan bagaimana interaksi antarfungsi dapat menghasilkan kondisi yang tidak diinginkan.
Perbedaan Swiss Cheese, Bow Tie, dan FRAM
Swiss Cheese, Bow Tie, dan FRAM memiliki fokus yang berbeda.
Swiss Cheese Model
Swiss Cheese digunakan untuk memahami bagaimana kelemahan pada beberapa lapisan pertahanan dapat saling sejajar hingga memungkinkan kecelakaan terjadi.
Pertanyaan utamanya:
Lapisan pertahanan mana yang memiliki kelemahan?
Bow Tie Analysis
Bow Tie digunakan untuk mengidentifikasi ancaman, top event, konsekuensi, serta efektivitas pengendalian pencegahan dan mitigasi.
Pertanyaan utamanya:
Pengendalian apa yang gagal, tidak tersedia, atau tidak efektif?
FRAM
FRAM digunakan untuk memahami interaksi antarfungsi dan variasi kinerja dalam sistem yang kompleks.
Pertanyaan utamanya:
Bagaimana variasi beberapa fungsi berinteraksi hingga menghasilkan kejadian?
Tidak ada satu metode yang selalu paling tepat untuk seluruh jenis insiden.
Pemilihan metode perlu disesuaikan dengan:
karakteristik kejadian;
tingkat kompleksitas sistem;
kualitas dan ketersediaan data;
jumlah fungsi yang terlibat;
tujuan investigasi;
tingkat risiko pekerjaan.
Apakah Swiss Cheese, Bow Tie, dan FRAM Dapat Digabungkan?
Dalam praktiknya, investigator tidak harus menggunakan satu metode saja.
Metode investigasi dapat dikombinasikan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh.
Sebagai contoh, investigator dapat:
menyusun kronologi kejadian;
menggunakan 5 Why untuk analisis awal;
menggunakan Bow Tie untuk mengevaluasi pengendalian;
menggunakan Swiss Cheese untuk menemukan kondisi laten;
menggunakan FRAM apabila kejadian melibatkan interaksi sistem yang kompleks.
Teknik lain yang juga dapat digunakan meliputi:
Fishbone Diagram;
Event and Causal Factor Charting;
barrier analysis;
change analysis;
fault tree analysis;
analisis faktor manusia;
analisis faktor organisasi.
Kombinasi metode membantu investigator menghindari kesimpulan yang terlalu sederhana.
Root Cause Tidak Selalu Berarti Satu Penyebab
Istilah root cause sering dipahami sebagai satu penyebab utama yang harus ditemukan.
Padahal, kecelakaan kerja dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor secara bersamaan, seperti:
desain pekerjaan;
kondisi peralatan;
keputusan manajemen;
ketidaksesuaian prosedur;
kompetensi;
komunikasi;
tekanan waktu;
pengawasan;
budaya organisasi;
perubahan operasional.
Karena itu, hasil investigasi sebaiknya tidak berhenti pada pernyataan seperti:
pekerja kurang berhati-hati;
pekerja tidak mengikuti prosedur;
kurangnya pengawasan;
human error;
perlu dilakukan pelatihan ulang.
Pernyataan tersebut perlu dianalisis lebih lanjut.
Sebagai contoh, ketika pekerja tidak mengikuti prosedur, investigator perlu menanyakan:
apakah prosedur tersedia;
apakah prosedur mudah dipahami;
apakah prosedur sesuai kondisi lapangan;
apakah pekerja memiliki waktu untuk mengikuti prosedur;
apakah terdapat konflik antara prosedur dan target produksi;
apakah pelaksanaan prosedur pernah diverifikasi;
apakah prosedur tersebut benar-benar dapat diterapkan.
Dengan pertanyaan yang lebih mendalam, investigator dapat menemukan faktor organisasi dan sistem yang berkontribusi terhadap kejadian.
Mengapa “Human Error” Belum Menjadi Kesimpulan Akhir?
Human error sering digunakan sebagai kesimpulan dalam laporan investigasi.
Padahal, human error lebih tepat dipahami sebagai titik awal untuk melakukan analisis lebih lanjut.
Ketika seseorang melakukan kesalahan, investigator perlu memahami:
informasi apa yang tersedia saat itu;
kondisi apa yang dihadapi;
keputusan apa yang terlihat masuk akal;
apakah terdapat tekanan waktu;
apakah desain alat mudah dipahami;
apakah terdapat gangguan;
apakah prosedur sesuai kondisi nyata;
apakah pekerja menerima pelatihan yang memadai;
apakah sistem memberikan peringatan sebelum kesalahan menimbulkan dampak.
Pendekatan tersebut tidak berarti menghilangkan tanggung jawab individu.
Tujuannya adalah memastikan perusahaan tidak kehilangan kesempatan untuk memperbaiki sistem hanya karena investigasi berhenti pada kesalahan manusia.
Rekomendasi Investigasi Harus Memperkuat Sistem
Hasil root cause analysis kecelakaan kerja seharusnya menghasilkan rekomendasi yang dapat mengurangi kemungkinan kejadian berulang.
Rekomendasi perlu mempertimbangkan hierarki pengendalian, seperti:
menghilangkan sumber bahaya;
mengganti proses atau material;
memperkuat rekayasa teknik;
memperbaiki desain pekerjaan;
meningkatkan sistem pengendalian dan verifikasi;
menyempurnakan prosedur;
meningkatkan kompetensi;
memperkuat penggunaan alat pelindung diri.
Pelatihan ulang dapat menjadi salah satu tindakan perbaikan. Namun, pelatihan tidak seharusnya menjadi satu-satunya rekomendasi apabila masalah utama berada pada desain, peralatan, sumber daya, atau sistem organisasi.
Setiap rekomendasi juga perlu memiliki:
penanggung jawab;
target penyelesaian;
tingkat prioritas;
indikator keberhasilan;
metode verifikasi;
evaluasi efektivitas.
Tindakan perbaikan dinyatakan selesai bukan hanya ketika dokumen telah ditandatangani, tetapi ketika efektivitasnya telah diperiksa.
Meningkatkan Kompetensi Investigasi Insiden
Investigasi kecelakaan kerja yang efektif membutuhkan kemampuan untuk:
mengumpulkan bukti secara objektif;
menyusun kronologi;
melakukan wawancara;
mengevaluasi pengendalian;
memahami faktor manusia;
mengidentifikasi kondisi laten;
menganalisis interaksi sistem;
menyusun rekomendasi yang dapat diterapkan.
Program pelatihan investigasi insiden juga dapat dikembangkan dengan mengacu pada kompetensi yang relevan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
AKUALITA menyediakan Pelatihan Investigasi Insiden melalui kelas reguler maupun in-house training yang dapat disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan dan kebutuhan perusahaan.
Pembahasan dapat mencakup root cause analysis, Swiss Cheese Model, Bow Tie Analysis, serta pendekatan sistemik menggunakan FRAM.
Tingkatkan kemampuan tim dalam melakukan investigasi insiden secara sistematis bersama AKUALITA. Hubungi CS AKUALITA atau lihat jadwal pelatihan melalui website resmi AKUALITA.
Referensi
Australian Institute of Health & Safety. OHS Body of Knowledge, Chapter 12.6.1: Investigations. https://www.ohsbok.org.au/chapter-12-6-1-investigations/
Australian Institute of Health & Safety. OHS Body of Knowledge, Chapter 32: Models of Causation – Safety. https://www.ohsbok.org.au/chapter-32-models-of-causation-safety/
Reason, James. Human Error. Cambridge University Press.
Hollnagel, Erik. FRAM: The Functional Resonance Analysis Method.
International Organization for Standardization. ISO 45001:2018 Occupational Health and Safety Management Systems.
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Tujuannya adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan, mengevaluasi kegagalan pengendalian, dan menentukan tindakan perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Investigasi kecelakaan mencakup seluruh proses pengumpulan bukti, wawancara, penyusunan kronologi, analisis, rekomendasi, dan tindak lanjut. Root cause analysis merupakan bagian dari proses investigasi tersebut.
Swiss Cheese merupakan model penyebab kecelakaan yang membantu memahami hubungan antara kegagalan aktif, kondisi laten, dan lapisan pertahanan. Model ini dapat digunakan sebagai bagian dari proses root cause analysis.
FRAM digunakan ketika kejadian melibatkan sistem kompleks, banyak fungsi, tekanan waktu, interaksi manusia dan teknologi, serta variasi antara prosedur dan praktik aktual.
Tidak. FRAM lebih berfokus pada interaksi antarfungsi dan variasi kinerja dalam sistem. Pendekatan ini membantu memahami bagaimana berbagai kondisi dapat berinteraksi hingga menghasilkan kejadian.
Ya. Investigator dapat mengombinasikan timeline, 5 Why, barrier analysis, Swiss Cheese, Bow Tie, dan FRAM sesuai karakteristik dan kompleksitas kejadian.
Tidak ada satu metode yang selalu paling tepat. Swiss Cheese cocok untuk mengevaluasi lapisan pertahanan dan kondisi laten, Bow Tie untuk menganalisis kegagalan pengendalian, sedangkan FRAM sesuai untuk sistem yang kompleks.
Ya. Pelatihan Investigasi Insiden tersedia melalui kelas reguler dan dapat dilaksanakan secara in-house sesuai kebutuhan perusahaan.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Hana Nuriy, SKM, MOHSSc
PT Adhikriya Kualita Utama (AKUALITA) adalah Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) resmi yang menyelenggarakan pelatihan sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kemnaker (Kementerian Ketenagakerjaan) dan sertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).
AKUALITA juga menyediakan layanan konsultasi K3 yang mencakup keselamatan kerja, kesehatan kerja, lingkungan kerja, serta peningkatan sistem manajemen mutu di berbagai sektor industri.